Saat jaya-jayanya, sebuah media cetak populer di Indonesia, misalnya tabloid pada era 2000 awal, posisi paling laris saat itu sempat merasakan madu berkah dari oplah yang hampir 500.000 eksemplar per minggu. Saking jayanya, kesuksesan satu media biasanya disusul dengan lahirnya media-media baru. Misalnya, sebagai contoh saat pertama kali lahir, Majalah Selular, media yang berfokus pada gadget dan telekomunikasi ini, sukses ditengah euforia ponsel mungil dan SMS. Bayangkan saja, pada 2005-2010 saja, media yang berfokus pada seluler itu hadir paling banyak, kurang lebih ada sekitar 40 media dengan segment yang sama, mulai dari majalah hingga tabloid, mulai dari besutan toko ponsel hingga agen koran pun tak luput menelurkan hadirnya media sejenis.
Tapi, coba lihat, 2015 saja, media berbasis cetak tersebut, akhirnya hanya menyisakan tiga media saja, yakni Majalah Selular, Tabloid Sinyal dan Tabloid Pulsa. Beberapa media besar seperti T&t, Telset, T3, Stuff, hingga Majalah Forsel besutan Gramedia pun harus gulung tikar. Bahkan sumber terpercaya saya, sempat membisikkan, bahwa kini mereka pun harus bekerja dengan gaji “ala kadarnya” karena pendapatan kini tak bisa lagi berharap dari penjualan, sementara iklan yang sudah di-diskon gila-gilaan pun tak kunjung menambah pendapatan. Salah satu karyawan pun sempet mengeluh kini mereka harus “ngebut” membuat konten untuk digital dan TV via YouTube. Karena tak ada pilihan, mereka pun harus melakoninya meski harus berpacu deadline untuk cetak, online dan video, tapi dengan gaji yang tak naik.
Sebenernya, senja kala profil media di Indonesia sejak dimulainya lonceng kematian media cetak sudah terlihat sejak 2014 lalu, sejak tiba-tiba saja industri media di Indonesia dikejutkan dengan tutupnya beberapa media lifestyle dari Gramedia Group, yakni InStyle, Martha Stewart, Chic, More dan Tamasya. Berlanjut di akhir 2015, Sinar Harapan tutup, lalu awal tahun ini Majalah Cita Cinta milik Femina Group akhirnya pun menyerah.
Seiring dengan runtuhnya media cetak, beberapa kelompok grup media baru yang berkecimpung di ranah digital pun meruak. Nama seperti Kapan Lagi Network dan Beritagar, dengan beberapa segmen media nya meramaikan lanskap jurnalisme digital di Indonesia tahun ini. Ini belum termasuk media-media online baru yang digawangi jurnalis eks media besar. Setidaknya kehadiran mereka menjadi pilihan berikutnya bagi pekerja pemasaran dan public relations saat harga iklan Detikcom dan Kompascom melangit.
Lalu bagaimana nasib media cetak yang kini masih bertahan?
Salah satu teman saya dari group media besar mengungkapkan bahwa kini mereka ibarat ditenagai “nafas buatan” yang entah sampai kapan persediaan nafas buatan itu kendor. Mereka masih bertahan berkat kerjasama redaksi dengan brand untuk menggelar event kreatif, yang ujung-ujungnya diimbali dengan editorial gratis, tergantung nilainya, jika beruntung brand bisa mendapatkan 4 halaman editorial gratis. Harganya pun lebih murah daripada mereka harus memasang advertorial.
Berkah jurnalisme digital
Banyak editor yang sudah memperkirakan bahwa nasib mereka yang terus “digantung” di media cetak membuat mereka dalam posisi tidak aman saat ini. Beberapa editor memutuskan hengkang duluan, dan mendirikan media digital sendiri. Apalagi sekarang semua template untuk media sudah ada di online, tergantung siap mental saja untuk memajukan media nya.
Mereka yang berlaju di segmen media lifestyle dan tech, berkibar lebih dulu dengan bermain di media online, blog dan instagram. Sebut saja, seperti Dewi Utari, Ayla Dimitri, Andhina Wulandari, Tara Amelz, Kristian, Romi Hidayat, dan beberapa nama lainnya, kini seperti halnya media tempat mereka dulu bekerja, mereka pun sudah memiliki rate card sendiri saat brand ingin bekerja sama dengan mereka.
Karena sering muncul di media online, YouTube dan Instagram, wajah mereka kadang tak asing lagi ditemui. Jika dulu reporter hanya bersembunyi dibalik nama dan tulisan, kini seiring dengan perkembangan jurnalisme digital dan akses 4G yang memudahkan semuanya, wajah-wajah editor pun jadi sering wara-wiri di saluran digital.
Kini mereka sudah jadi seleb-editor. Dan, anda boleh menunggu, tahun depan, akan banyak lagi bermunculan editor-editor online yang wajah mereka akan rajin nongol dan bergaya di saluran digital. Nah, sudah siapkah pelaku iklan dan public relations di Indonesia, merangkul mereka? Semoga. Setidaknya, jangan sampai independensi jurnalisme ikut tercoreng karena “rate card” mereka sendiri.
