Followers vs True Fans & Pengaruhnya untuk PR Agency

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Dalam sebuah rencana campaign, angka (followers, engagement, dan semacamnya) sering menjadi matriks yang klien dari PR agency ajukanatau public relations tawarkan. Pasti sering dong kita mendengar “Mau media yang view-nya sekian,” atau “KOL yang follower ataureach-nya seenggaknya segini ya,”.

Tidak mengherankan jadinya kalau banyak media dan KOL di kota besar seperti Jakarta, berlomba mendapatkan angka yang sebesar-besarnya. Harapannya bisa mendapatkan lebih banyak kerja sama, atau setidaknya masuk dalam rekomendasi PR agency. Sementara yang berada di kawasan kota kedua atau kota ketiga di Indonesia mencoba menghadirkan keunikan dari tiap-tiap daerah dengan style masing-masing.

Tapi belakangan, sering terjadi di homeless media atau KOL yang sudah memiliki puluhan ribu followers, tapi saat ada campaign dengan salah satu klien PR agency ternyata yang ngeview cuman ratusan atau lebih parahnya lagi bisa puluhan. Kondisi seperti ini tentu membuat para public relations bingung. Ada yang keliru dimanakah?

Followers Tidak Berbanding Lurus dengan Reach

Ada satu fakta yang mungkin para pegiat public relations maupun PR agency akan bingung mendengarnya. Sementara untuk media ataupun KOL, ada pil pahit yang berpotensi berpengaruh terhadap rate card. Apa sih itu? Jadi riset Social Media Examiner menyingkap kenyataan kalau jangkauan dari sebuah organic post hanya 2 persen saja dari jumlah followers keseluruhan. Hah cuman segitu? Iya nih,kondisi terbaiknya hanya mencapai 5 persen saja.

Jadi memang begitulah kenyataannya. Misalnya ada media atau KOL yang punya 50.000 followers. Besar kemungkinan masuk ke dalam radar PR agency untuk selanjutnya meminta persetujuan klien ke dalam sebuah campaign. Tapi kalau mengacu ke hasil riset tadi, yang melihat kontennya potensinya hanya 1.000-2.500 orang saja. Memang masih ribuan, tapi jumlahnya terlalu sedikit dengan followers media atau KOL-nya. Kemana sisanya? Sebelum keburu berpikir ini bukan real numbers, ternyata yang “jahat” adalah algoritma.

Kalau Numbers Bukan Segalanya, Jadi…

Sebagian pelaku public relations mungkin berpikir kondisi seperti ini hanya berlaku di kota-kota tertentu seperti Jakarta. Di belahan Indonesia lainnya, dengan jumlah media maupun KOL yang lebih sedikit bisa jadi berbeda. Tapi kenyataannya ada saingan terselubung yang tidak kelihatan PR agency. Perubahan tren, kejenuhan audiens, dan terjun payungnya interaksi, lagi-lagi algoritma.

Penulis teknologi kenamaan Kevin Kelly pernah berkata, medium yang solid tidak perlu jutaan orang yang mengaku sebagai fans. Melainkan yang lebih penting adalah 1.000 True Fans. Apalagi nih?

Sesuai namanya, mereka adalah audiens yang peduli, percaya, paham value dari masing-masing media atau KOL. Ujungnya transaksi terjadi berdasarkan rekomendasi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Klien senang, public relations bisa lega, dan “nafas” PR agency juga potensial lebih panjang.

Para public relations perlu memiliki mindset ketika memasukkan rekomendasi KOL dan media, kalau ada potensi pembatasan reach, tenggelamnya konten di lautan timeline dan lagi-lagi, angka-angka real followers juga bisa lenyap dalam sekejap.  Jadi harus bagaimana dong?

Sebenarnya akan kembali ke pepatah lama. “Jangan taruh semua telur di satu keranjang”. Para pelaku public relations bisa mengarahkan KOL dan media untuk menggunakan platform yang lebih minim distorsi algoritma, misalnya email list dan web. Terdengar klasik, tapi strategi ini nggak bergantung dimana PR agency berada. Mau itu di Jakarta, ataupun kota-kota lain di Indonesia, algoritma akan merangsek di lautan bebas media sosial, dan pihak-pihak yang bisa menjaga “true fans-nya akan tetap berpotensi bertahan. (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts