Pentingnya Bahasa Indonesia untuk Public Relations

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Banyak orang, termasuk public relations yang tinggal di  Indonesia merasa karena lama tinggal di negara dengan bahasa keseharian bahasa Indonesia, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Padahal baik belum tentu profesional, dan rasanya sekarang adalah waktunya kembali merefleksikan hal ini dalam cakupan kemampuan berbahasa. Banyak PR agency di Jakarta dan kota-kota lain di seluruh penjuru Indonesia yang begitu yakin dengan Bahasa Indonesia, tapi apakah mereka benar-benar mampu?

Ada cerita pengalaman seorang pekerja media, sebut saja berinisial D yang kini mulai menapaki karier public relations. Dua puluh satu tahun lalu, D terperangah ketika pertama kalinya mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) dengan status mahasiswa baru di sebuah kampus negeri di Semarang. Waktu itu, D berpikir karena ia berkuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya-red)  jurusan Sastra Inggris maka mata kuliah dengan bobot Sistem Kredit Semester (SKS) paling banyak adalah segala hal yang berhubungan dengan sastra, bahasa Inggris, dan selingkar wilayahnya. 

Ternyata? D salah total. SKS terbanyak justru dipegang oleh Bahasa Indonesia dengan bobot empat SKS adalah Bahasa Indonesia. D bahkan masih ingat perbincangan di mobil dengan almarhum bapaknya sewaktu mengantarkan D ke pool bus di bilangan Kota Kembang. “Mata kuliah apa yang SKS-nya paling banyak?” tanya bapak si D. “Bahasa Indonesia pak, empat SKS nih,” jawab saya. Bapak juga sedikit kaget, tapi dia justru berpesan. “Meskipun Bahasa Indonesia, jangan kamu sepelekan,” ujarnya. Tentu si D yang waktu baru masuk kuliah sedang mempertimbangkan karier masa depannya di industri public relations atau PR agency, cuman bisa membatin, “Kenapa Bahasa Indonesia ya?”

D turun dari mobil dan berpindah ke bus malam yang mengantarkan perjalanan Bandung ke Semarang. Apa yang bapak D bahas tadi tentu hanya jadi cerita pengantar sebelum tertidur pulas. Hari-hari perkuliahan D semester awal dengan mata kuliah Bahasa Indonesia berlalu dengan semangat ugal-ugalan. Terkadang terselip di pikiran D untuk mencari tambahan uang saku dengan menjadi public relations level magang di PR agency di Semarang.

Bobot empat SKS dalam satu semester berarti dua kali kelas per minggu. Tapi sepertinya waktu itu D terlalu tak acuh dalam mata kuliah Bahasa Indonesia, (sebenarnya sih hampir semua mata kuliah ya-red). Dari mulai bercanda di kelas, sampai sekadarnya dalam mengerjakan tugas. Sampai tiba waktu ujian semesteran, hasilnya jelas D kelabakan. 

Mengulang yang (Tidak) Jadi Peluang

Nilai Bahasa Indonesia D jauh dari kata memuaskan, bahkan hanya sekadar cukup. Solusinya tentu saya harus mengulang. Mau ikut semester pendek, mata kuliahnya tidak tersedia. Akhirnya D harus mengulang di periode semester ganjil berikutnya alias menunggu satu tahun.

Apakah D makin semangat di periode mengulang ini? Sayangnya tidak. D justru memanfaatkan celah absen lima puluh persen kehadiran (karena sibuk bekerja paruh waktu menjadi public relations untuk sebuah PR agency) membuat ujian kembali D kerjakan sekenanya. Ketika muncul hasilnya, nilai persis sama dengan semester pertama.

D mengaku mencelos, karena ini artinya tidak ada lagi kesempatan D untuk memperbaiki nilai Bahasa Indonesia. Saat itu sudah semester tiga, dan kalau D harus mengulang di semester lima, sudah sangat mepet dengan periode pengerjaan skripsi. Seperti kata bercandaan, “Penyesalan itu selalu datang belakangan. Kalau di depan namanya pendaftaran.” 

“Kehujanan” Lahan Penulisan

Sedia payung sebelum hujan. Tapi namanya anak muda pasti enggan dan memilih hujan-hujanan. Sama seperti D yang waktu itu masih penuh dengan darah muda dan berhadapan dengan banyak pilihan. Pekerjaan di ranah event organizer dari sebuah PR agency, termasuk lemparan-lemparan pekerjaan dari Jakarta yang bisa dikerjakan D dari Semarang dan kesibukan penyiaran yang tadinya sudah mulai menghasilkan, membuat D tersadar kalau hidup adalah perputaran dan ada yang namanya pekerjaan musiman.

Akhirnya, D mendapat tawaran penulisan. Awalnya, D menerimanya dengan keraguan. Karena jalan itu seolah tidak sesuai dengan keinginan. Tapi dengan kenyataan kalau D harus makan, dan keengganan menerima bantuan kiri kanan, akhirnya tawaran itu D iyakan. 

Arahan dari penerbit hanya satu kalimat tapi membuat pikiran D terus berputar. “Tulis saja yang kamu suka berdasarkan kesukaan,” ujar si bos besar. Dengan sedikit gusar, D memulai dengan sedikit gemetar, tapi hati D terus berkata “Ayo dong jangan gentar,”.

Meskipun Bahasa Indonesia D di perkuliahan nilainya pas-pasan, ternyata jadi modal D dalam dunia kepenulisan. Pun ketika belasan tahun berada di industri media dan sekarang menapak ke ranah public relations bersama salah satu PR agency di Jakarta.  Setidaknya kemampuan dasar dalam mengemas suatu hal menjadi menarik untuk diceritakan. Kalau dalam bahasa kekinian storytelling, Bahasa Indonesia menyelamatkan keuangan di saat genting. 

Pelangi Setelah Hujan

Mimpi menjadi wartawan sudah muncul di kepala D sejak seragam putih abu-abu masih D kenakan. Bermodal keyakinan, mimpi bisa menjadi kenyataan. D mendapat pekerjaan di ranah media dari mulai reporter sampai pemimpin redaksi. Seiring perjalanan karier profesional yang berlanjut ke ranah public relations di Jakarta, D makin menyadari tidak ada yang sia-sia, termasuk mengulang mata kuliah Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia mengantarkan D untuk menulis empat buku. Selain bisa mendapatkan perangkat penunjang pekerjaan, ternyata berbelas tahun berlalu, D masih bisa berbagi lewat buku.

Ketika harus berhadapan dengan laporan kegiatan ataupun urusan pemerintahan, D  tidak lagi merasa gentar perihal kebahasaan. Ketiga mendalami peran sebagai pengisi suara, D juga bisa menawarkan layanan tambahan sebagai penulis naskah yang tentunya selalu mengedepankan kaidah kebahasaan sesuai dengan tujuan penggunaan. Ketika berada di bawah bendera sebuah PR agency di Jakarta, D mampu meracik semua yang berhubungan dengan tulisan baik itu siaran pers, blog, dan media sosial.  

Untuk kalian yang bekerja di ranah public relations atau PR agency, entah itu di Jakarta atau daerah-daerah lain di Indonesia, ada yang punya pengalaman sama dengan D? Seberapa yakin kalian dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar? (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts