(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Buat para public relations, pasti pernah mengalami penolakan ide. Entah itu dari klien atau internal di PR agency. Materi kali ini bukan tentang bagaimana menjaga kesehatan mental dari penolakan. Tapi ini tentang bagaimana PR agency di Indonesia terutama di Jakarta sebagai barometer industri public relations di Indonesia yang katanya sudah terlalu red ocean.
Ada kalanya PR agency Jakarta dan daerah lain di Indonesia sepakat untuk memperbaiki proses bisnis. Istilah industrinya adalah business process improvement (BPI). Masalah utama dari implementasi BPI adalah banyaknya PR agency berbagai skala, baik yang kecil, sedang, maupun raksasa, yang terbentur dalam proses penyempurnaan karena orang-orang di dalamnya telanjur merasa aman dengan proses yang selama ini berjalan.
Jadi Seharusnya Apa yang Mesti PR Agency di Indonesia Lakukan?
Ada elemen mendasar yang para pekerja PR agency di Indonesia terutama di Jakarta perlu pahami lebih dalam. BPI sejatinya bukan sekadar penyusunan ulang alur kerja. Para public relations harus melakukan analisis mendalam terhadap aktivitas yang berulang, identifikasi hambatan, dan perancangan cara baru yang lebih efisien maupun efektif.
Bagi lini bisnis termasuk di dalamnya PR agency, BPI bisa berarti memangkas langkah yang tidak memiliki tambahan nilai, membuat jalur persetujuan jadi lebih cepat, atau optimalisasi teknologi untuk otomatisasi. Intinya, perbaikan harus nyata dampaknya, jangan sekadar perubahan kosmetik.
Untuk memulai BPI public relations perlu memetakan proses yang ada. Selanjutnya, semua yang berada di dalam PR agency memang bisa saja saling tunjuk titik lemah, seperti langkah yang memakan waktu, biaya, atau tenaga berlebih. Setelah itu, perlu rancangan alternatif perbaikan, pengujian, lalu bagaimana penerapannya secara bertahap.
Contoh kasus yang sering terjadi pada PR agency di Indonesia terutama di Jakarta, antrean orang ingin mengikuti aktivasi, perbaikan proses bisa berupa penambahan saluran online agar prosesnya dapat audiens lakukan tanpa perlu datang ke lokasi untuk mengambil nomor antrean misalnya.
Untuk public relations yang bergelut di ranah edukasi, BPI juga relevan. Misalnya saja, proses penilaian tugas yang biasanya memakan waktu lama karena guru, mentor, atau bahkan dosen harus membuka berkas satu per satu siswa maupun peserta kelas. Solusinya adalah dengan menyediakan “tempat” untuk mengumpulkan tugas melalui sistem online dengan sistem notifikasi otomatis. Tujuannya bisa memangkas proses koreksi, sekaligus pengarsipan. Para pengajar bisa lebih cepat memberi umpan balik dan peserta kelas lebih cepat memperbaiki.
Perubahan Dunia, PR Agency di Indonesia terutama di Jakarta Harus Siaga
Seperti dibahas di awal, sudah terlalu banyak PR agency di Indonesia terutama di Jakarta berpegang pada metode lama karena merasa sudah berjalan bertahun-tahun. Padahal, tidak ada yang stagnan. Dari mulai kebutuhan klien, teknologi, dan munculnya pesaing-pesaing baru Enggan melihat kelemahan proses bisa jadi awalnya peluang peningkatan kualitas perusahaan.
Satu hal penting dari BPI adalah kerelaan untuk mengakui kalau sudah lumayan oke belum tentu cukup oke. Sama seperti peserta workshop yang mendapat tantangan mentornya. PR agency perlu berani menerima penilaian dari siapa pun, bahkan ejekan dari berbagai pihak, sebagai bahan pakar perbaikan. BPI tidak akan berjalan tanpa upaya dan kerelaan untuk menelusuri dan memastikan proses yang selama ini nampak baik-baik saja.
Jadi lebih baik atau naik kelas stimulusnya adalah kemauan belajar. Klien, media, KOL, komunitas adalah medium pembelajaran yang baik untuk para public relations. Sekali lagi BPI bukan hanya sekadar metode manajemen, tapi lebih dari itu adalah mindset. Jangan ragu juga untuk para PR agency rela belajar ke generasi bawah meskipun mereka masih sangat belia. Hal ini jadi pemantik mengingatkan kita untuk tidak malu dengan kekurangan, sehingga tahu celah mencari solusi supaya produk-produk komunikasi PR jadi makin bersinar. (*)
