Apakah Public Relations Harus Jago?

Blog kali ini mengangkat cerita perjalanan karier seorang pekerja media yang aktivitasnya banyak beririsan dengan public relations, PR agency, belasan tahun hidup di Jakarta, setelah sebelumnya di beberapa kota lain di Indonesia.

Tahun 2025 menandai perjalanan delapan belas tahun karier profesional orang berinisial “D”. Menurutnya, jumlah tahun kariernya belum sepanjang itu, tapi juga rasanya tidak sependek itu. Ada perspektif darinya  tentang “jago”, satu kata yang mungkin menurut sebagian orang begitu penting untuk mendapatkan suatu peran di ranah profesional, termasuk di dalamnya public relations.

D memulai karier penulisan profesional di tahun 2007. Di penghujung masa kuliahnya di Semarang sebelum akhirnya harus berpindah ke Jakarta, ketika sebelumnya pekerjaan event organizer dari bagian sebuah PR agency di Semarang sudah habis kontrak dan belum ada order baru, plus kurang beruntungnya D di industri broadcast. Kesempatan yang tadinya sempat tidak D pertimbangkan karena merasa “tidak jago”.

Bagaimana tidak, satu-satunya aktivitas penulisan D adalah tugas kuliah. Itupun masih banyak dibantu proses edit dan proofread-nya oleh sahabatnya. Di sisi yang lain, gejolak darah muda D merasa bahwa kegiatan di balik layar monitor bergumul dengan deretan aksara adalah hal yang membosankan dan tidak cool. 

Bakat versus Latihan

Mundur sejenak ke perjalanan karier

D di era sebelum menjadi peramu kata, D mengawali proses masuk ke industri event dengan modal nekat proposal magang kampus. Jurusan kuliah D adalah Sastra Inggris, yang tentunya bukan prioritas bagi perusahaan yang bergerak di ranah event. Mereka mungkin akan lebih memilih mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi atau Desain dengan potensi kompetensi yang lebih potensial.

Mungkin lain halnya kalau D memiliki potensi lain seperti olah gambar digital, fotografi, atau public relations. Tapi kemampuan saya untuk hal-hal tersebut pada masa itu juga terbilang minim. Hanya keyakinan dan pengalaman berhasil membuat sebuah event jurusan yang cukup sukses (dan “jualan kecap” ketika user interview) membuat D akhirnya bisa diterima magang di perusahaan tersebut. 

Apakah D menjadi “jago” dengan modal magang ini? Tentu saja jawabannya tidak. Tapi ternyata proses pekerjaan harian si D (waktu itu mengurus pameran sebuah pembangunan jembatan penghubung dua mal red) memberikan banyak proses berulang yang membuat D berhasil mendapatkan kesempatan mengelola event pensi sebuah SMA swasta di Semarang tahun 2006  dan hasilnya lebih dari sekadar memuaskan.

Jika dibandingkan dengan EO-EO lain yang sudah punya nama dan duluan nyemplung ke ranah event, tentu D sangat mudah mengatakan “siapalah saya?”. Tanpa disadari ada dua event dengan bayaran profesional yang dilewati dengan peran D di dalamnya sejak 2003 (tahun pertama kali saya membuat event di kampus yang “pecah”-red)

Lagi-lagi D masih belum “jago” untuk urusan event management. Tapi di 2006 juga D mendapat kesempatan mengelola event pensi sebuah SMA negeri di Semarang. Menyusul sejumlah event kampus dalam skala yang lebih masif. Supaya tidak menguap, pengalaman-pengalaman event handling ini saya dokumentasikan dalam buku pertama D yang rilis tahun 2008. 

Menceburkan Mimpi

Ketika ditanya cita-cita sepanjang sekolah, ini mungkin jadi salah satu pertanyaan tersulit untuk dijawab. Sampai akhirnya ada “panggilan” untuk menjadi pekerja media. Tentu saja banyak skillset D yang jauh dari kata “jago” terlebih ketika memulai menjadi reporter untuk sebuah portal berita online skala nasional.

Dimulai dari bagaimana mendapatkan berita, mengambil gambar diam dan bergerak, sampai menulis. Karena D suka dengan musik dan gaya hidup, D banyak membuat tulisan yang berhubungan dengan dua hal tersebut, ketimbang hard news. Tetap saja bukan tanpa cela, D mengaku masih ingat sekali ucapan editor kala itu, “Tulisan kamu bagus, tapi tanda bacanya salah semua,” katanya.

Awalnya D cuek saja. Sampai D merasa perlu bisa menulis lebih dari dibilang bagus. Hal ini yang D bawa ketika menjadi editor untuk media game dan gadget. Prinsip seorang D, selain menyajikan tulisan yang lebih dari sekadar layak baca, pastinya jangan sampai terlambat deadline. Ternyata ini cukup berhasil menyelamatkan D dari tidak “jago”nya saya bermain game atau mengulik gadget terkini.

Dari jabatan Redaktur Pelaksana atau Managing Editor, D mendapat kepercayaan menjadi Managing Editor sebuah majalah musik nasional. Sama seperti media sebelumnya, D bukan seorang yang “jago” musik. Di tempat ini malah nama-nama sebelumnya yang “kursi”-nya D duduki jauh lebih punya nama di ranah permusikan. Tapi nyatanya, ada klien-klien baru yang datang dan pastinya membuat nafas medianya lebih panjang.

Pun hal yang sejenis ketika saya mendapat kesempatan mengerjakan proyek konten media sosial untuk salah satu brand teknologi di bawah bendera sebuah PR agency di Jakarta, alias kalau sekarang sih bagian tim Social Media Strategist. Jelas bukan yang “jago”, tapi terlewati juga tiga tahun perjalanan proyek ini yah.  


Sampai akhirnya ketika sampai di titik D menjadi Pemimpin Redaksi atau Editor in Chief untuk sebuah media startup teknologi, lagi-lagi D merasa bukan seseorang yang “jago” di bidang tersebut. Tapi nyatanya, D melewati perjalanan karier di perusahaan itu selama hampir lima tahun.

Sama juga dengan bidang olah suara (tanpa nada-red) yang belakangan menghidupi D. Dari mulai voice over, sampai podcasting alias siniar. D juga merasa bukan orang yang “jago” di ranah ini. Tapi ternyata mengantarkan D bisa hidup (bahkan lebih dari cukup di Jakarta-red).

Jadi, Public Relations Enggak Perlu “Jago” Dong?

Jawabannya tentu saja tidak. Ada “jago” yang kita perlukan untuk bisa mencapai apa yang kita inginkan. Beberapa contohnya bisa kita simak sekilas di atas, bagaimana D yang tidak jago event bisa mendapatkan kesempatan berada di balik layar beberapa event, sampai menjadi liaison officer (LO) untuk beberapa grup musik dan beberapa pekerjaan di ranah public relations.

Kuncinya apa? Temukan “hack”-nya. D bukan seorang desainer, tapi desain D pernah mendapatkan sponsor untuk materi promosi, bahkan backdrop sponsor operator seluler untuk sebuah pensi SMA. Meski kebanyakan jam terbangnya di media, tapi sisi lain kehidupannya adalah kaki di PR agency. Membuat proposal, sampai negosiasi dengan talent. Semuanya D cari “hack”-nya. Begitu pula selama karier profesional D di penulisan, media, dan new media. Bahasanya si D sih, “cara bodo(n)”. Soal ini, mungkin bisa bahas di blog post berikutnya ya!

Sayangnya, tidak jarang orang melihat kondisi tidak “jago” ini sebagai ketidakbisaan yang (mungkin) berpotensi merugikan alias nggak ada untungnya. Tapi setidaknya, apa yang sudah terjadi dalam delapan belas tahun perjalanan karier profesional D tetap ada value yang saya yakini. Sebutlah mereka yang mendapat manfaat dari buku-buku yang D rilis, berita-berita yang D publikasikan, suara, dan serangkaian aktivasi bersama PR agency  yang pernah D  jalankan dengan keterlibatan D di dalamnya. Kalau kata mereka sih sebutannya legacy. (*)


Share the Post:
Leave a message

Related Posts