Biar PR Agency Bertahan, Perlu Juga “Jalan-Jalan”

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Coba apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar kata jalan? Mungkin kerusakan, cara, atau mungkin menambahkan satu kata berulang di belakangnya. Memang fungsi katanya berubah, dari kata benda menjadi kata kerja. Termasuk untuk para pelaku public relations yang bekerja untuk PR agency di kota besar seperti Jakarta dan juga seluruh belahan Indonesia, ternyata “jalan-jalan” adalah hal yang mandatory untuk dilakukan.

Tapi kali ini bukan soal team atau company outing. Kehidupan digital membuat kita perlu banyak “berjalan-jalan” di dalamnya. Sekitar tahun 2000-an awal sampai satu dekade setelahnya blog begitu populer, dan karenanya ada istilah blogwalking. Sesuai namanya, aktivitas ini adalah “jalan-jalan” dengan tujuan meningkatkan kunjungan laman. Karenanya ketika memasukkan kata blogwalking di mesin pencarian, maka yang paling banyak muncul adalah para penyedia hosting situs.

Nah, mungkin kalian yang membaca ini baru menapaki dunia public relations dan selingkar wilayahnya, atau bahkan sudah menjalani beberapa tahun atau malah sudah belasan atau puluhan tahun di PR agency, frekuensi “jalan-jalan” yang makin intens akan memberikan banyak keuntungan bagi kalian.

Kendaraan untuk Menapaki Zaman

Jam terbang sebagai public relations pasti akan terus meningkat seiring berapa lama mengarungi waktu di PR agency. Tapi untuk bertahan adalah bagaimana menjaga relevansi. Karena yakin untuk bisa “memuntahkan” kita harus mempunyai banyak asupan.

Dengan “berjalan-jalan”, kita bisa menemukan KOL atau media baru dengan niche yang menarik untuk kita ajak bekerja sama. Jangan pernah lupa bila pergeseran tren media sudah terjadi berkali-kali. Dari mulai senjakala media cetak yang membuat banyak media cetak khususnya franchise, akhirnya harus gulung tikar. Sebutlah Gramedia Majalah yang harus menutup mayoritas majalahnya, juga MRA Media yang dulu menjadi barometer media di ranah gaya hidup , selain tentunya media-media dengan niche spesifik seperti tanaman, musik, game, mobil spesifik, dan banyak lagi lainnya. Ini baru untuk kota besar seperti Jakarta. Di banyak daerah lain di Indonesia, juga bertebaran media dengan local power-nya, yang juga harus berdarah-darah untuk bisa bertahan. 

Media daring digadang-gadang menjadi tren baru. Tapi ternyata tidak berhenti di situ. Time span pengonsumsi informasi terus tergerus. Berganti dengan meledaknya news aggregator seperti BaBe (Baca Berita), Kurio, dan banyak lagi lainnya. Ternyata umur mereka juga tidak panjang. Berganti dengan new media setelah raksasa platform seperti Facebook dan keluarga besarnya termasuk Instagram juga bergumul di ranah agregator informasi. 

Mungkin sampai di sini di antara kalian para pegiat public relations barut teringat, “Oh iya, saya menemukan KOL ini dan media itu dari  “jalan-jalan” tadi,”.  Secara tidak langsung temuan-temuan seperti ini membuat PR agency juga tidak terlambat berstrategi dalam menangani media. Di sisi lain, intensitas “jalan-jalan” juga akan memperkuat analisis umur suatu tren, seperti misalnya new media yang masih terus membesar dan makin menggelegar. 

“Jalan-Jalan”, Pertemanan, dan Cuan

Rasanya terlalu naif bila eksistensi tidak berhubungan dengan percuanan. Tapi nyatanya demikian. Di era new media, para pelaku public relations mulai menemukan kalau banyak KOL atau media mengembangkan siniar atau podcast mereka. Ada masanya semua orang berlomba-lomba menghadirkan konten podcast. Tentu kondisi ini akan membuat mereka yang berada di perahu brand akan mempertimbangkan beriklan di podcast, karena ada traffic di sana.

Hal yang lebih menarik adalah kalau sebuah PR agency berhasil menemukan bibit-bibit unggul baru di tengah aktivitas “jalan-jalan” ini.  Suatu saat medium yang saat ini baru akan menjadi konvensional yang masih berupaya meningkatkan traffic, atau bahkan merutuki kenyataan kalau sudah tak lagi relevan. Di saat itulah “panen” terjadi. Misalnya sebelumnya banyak belanja bujet iklan untuk radio di Jakarta, di waktu senjakalanya, para public relations bisa menawarkan medium-medium baru untuk mereka yang butuh memasarkan barang dan jasanya lewat campaign yang lebih masif lagi. Tidak hanya kota besar, tapi kota kedua bahkan ketiga di seluruh Indonesia. 

Apakah “jalan-jalan” ini bisa langsung mendulang uang atau mendatangkan leads? Tentu tidak. Tapi sekali lagi, aktivitas ini ibarat menabung aset untuk PR agency. Ibaratnya membangun kapal dagang, di dalamnya satu persatu mulai diimplementasikan layanan-layanan yang setidaknya bisa klien jadikan pertimbangan.

Siapa yang akan menduga, kalau aktivitas “jalan-jalan” tanpa perlu meninggalkan pekerjaan ini juga berpotensi menjaga hubungan baik dengan media dan KOL? Pertemuan mereka dengan para public relations bisa jadi bekal di kemudian hari untuk campaigncampaign yang berbeda alias out of the box. 

Ada public relations atau PR agency yang punya cerita tersendiri soal “jalan-jalan”?
(*)



Share the Post:
Leave a message

Related Posts