Mengapa Public Relations juga Perlu Menulis

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Ketika diminta menulis, sebagian pelaku public relations mungkin akan langsung teringat dengan siaran pers. Sisanya boleh jadi terlintas soal artikel di media. Lalu sebagian lainnya lagi berpikir, “Memang buat apa masih menulis?”. Pertama pekerjaan di PR agency, sudah begitu menumpuk. Belum lagi harus menghadapi lalu lintas dan bisingnya kota besar seperti Jakarta, dan kalaupun akhirnya menulis, pertanyaan berikutnya adalah “seberapa banyak sih orang Indonesia mau membaca?”.

Menulis adalah salah satu cara “mengasah pola pikir,”. Untuk yang berada di karier yang kesannya tidak ada hubungannya dengan penulisan sekalipun, menulis tetap akan menajamkan fungsi otak. Dalam eksekusi pekerjaan, akan lebih terstruktur, dan jarang sekali mengalami stuck.

Sementara public relations jelas beririsan dengan penulisan. Bagaimana tidak, pekerjaannya beririsan dengan pelaku industri media dan KOL. Belum lagi keseharian PR agency dengan klien. Meskipun output dari pihak-pihak yang diajak kerja sama belum tentu tulisan. Tapi membiasakan menulis akan membuat segala urusan bakal jadi lebih mudah.

Membangun Kenyamanan dalam Menulis

Ketika sudah lama tidak menulis, baik itu untuk urusan pekerjaan, atau perlu kembali menulis lagi setelah sekian lama, pasti ada kekakuan. Terkadang, hasilnya memang diluar dugaan. Bisa jadi isi pikiran tercurah tanpa rem. Tantangan berikutnya adalah memasukkan sumber atau data pendukung kalau diperlukan. Tapi bagi para public relations, urusan yang kedua ini harusnya sudah lebih sering jadi bagian pekerjaan di PR agency. Jadi yang perlu pembiasaan adalah “merangkainya”.

Masalah berikutnya adalah terkadang banyak orang yang baru mau atau kembali menulis, hasil tulisannya bisa jadi kurang sesuai harapan. Hal yang sangat normal sekali. Bukankah seorang public relations juga sering menerima perkataan “idenya jelek, eksekusinya nanti begini saja?” dan semacamnya bukan? Belum lagi PR agency yang kliennya meminta ganti konsep ketika pekerjaan sudah setengah jalan. Perkara tulisan jelek itu “obat”-nya hanya satu, terus menulis.

Masih mentok juga untuk menulis lagi? Coba untuk menulis yang “kecil-kecil” dulu. Toh public relations tidak mesti harus menulis jurnal ilmiah. Tapi mengungkapkan apa yang terjadi dari keseharian di kota besar seperti Jakarta di journaling bookjuga sebuah bentuk menulis yang patut mendapat apresiasi.

Bagaimana kalau kerjaan di PR agency banyak mengharuskan keluar kota. Bahkan dalam satu bulan bisa jadi keliling berbagai penjuru Indonesia? Ini justru kesempatan untuk menulis “kecil-kecil” tapi banyak. Pakai aplikasi di smartphone atau tablet untuk membantu menulis yang lebih “nyaman”. Bukan lagi di Microsoft Word atau Google Docs. Coba GoodNotes atau aplikasi menulis lain yang lebih membuat kita tidak merasa terlalu “bekerja”.

Perlunya “Nutrisi” untuk Menulis

Kalau di awal tadi ada pertanyaan, “Seberapa banyak orang Indonesia mau membaca tulisan para public relations? Maka bagaimana kalau kita balik, sesering apa sih orang-orang di suatu PR agency membaca?

Banyak yang berpikir membaca berarti bersentuhan dengan buku-buku tebal dan serius. Padahal mau itu bacaan fiksi, ataupun non-fiksi yang ringan sekalipun tetap akan menjadi nutrisi menulis. Kemacetan Jakarta juga bisa menjadi kesempatan untuk mengisi waktu di perjalanan dengan membaca.

Pengusaha dan investor kenamaan Naval Ravikant pernah berkata, “Read What You Love Until You Love to Read”. Sama seperti ketika tulisan jelek obatnya adalah menulis lagi. Saat merasa terus kehabisan ide ketika menulis berarti kita perlu kembali atau lebih banyak membaca.

Terakhir, biasakan untuk membaca (dengan lantang atau lirih) tulisan buatan kita. Menyuarakan tulisan akan membuat lebih yakin pada konteks dan kualitasnya. Sebelum akhirnya membagikannya ke ruang publik seperti media sosial dan blog. Lagian, siapa yang pernah tahu kalau bisa jadi ada orang di suatu daerah di Indonesia yang terbantu karena tulisan-tulisan para public relations dan secara tidak langsung berpotensi juga mengangkat nama PR agency di belakangnya. (*)


Share the Post:
Leave a message

Related Posts