(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Siapa pun boleh dan malah cenderung harus menjaga mimpi selama masih hidup. Termasuk para public relations, entah yang berada di kota besar seperti Jakarta atau daerah-daerah lain di Indonesia.
Di era gen-z dan gen alpha yang berbarengan dengan tren mindfulness, istilah manifestasi menjadi cukup populer. Tujuannya adalah menyelaraskan energi antara harapan dan tindakan, lewat ucapan atau aksi-aksi lainnya.
Lalu apa hubungannya dengan PR agency Jakarta? Justru di sinilah sebagai entitas bisnis para public relations yang ada di dalamnya bisa mengambil tindakan yang bisa dilakukan sendiri-sendiri atau kolaboratif sebagai tim.
Bagaimana bentuknya? Untuk yang tumbuh di era lagu “persahabatan bagai kepompong,” sang pemilik lagu Jalu Sind3ntosca selain sebagai musisi di era 2010-an sempat mempopulerkan #pajangdulugambarnya. Rasa-rasanya hashtag ini bukan sekadar campaign dari sebuah brand orderan dari PR agency.
Tapi sekitar satu dekade lalu (bahkan lebih), Jalu sempat menjelaskan bagaimana
#pajangdulugambarnya bisa bekerja. Memang ada kekuatan tak terlihat yang membuat #pajangdulugambarnya berakhir jadi nyata.
Ruang untuk Public Relations Mengukir Mimpi
Masih soal mimpi, eks penyiar radio yang juga aktif di ekosistem media digital Gofar Hilman A.K.A pergijauh sering menyampaikan di berbagai wawancara kalau kita bebas punya mimpi selama masih kelihatan langitnya. Selain itu, mimpi juga harus dibuat secara gradual, tentu saja supaya tidak menjadi hil-hil yang mustahal.
Soal pajang dulu gambarnya, Gofar yang awal namanya naik setelah mendapat tawaran kerja sama dengan salah satu PR agency Jakarta di era Twitter belum berganti nama menjadi X dengan #khotbahtimeline miliknya untuk sebuah produk cokelat, juga sempat bercerita tentang #pajangdulugambarnya. Kalau sekarang dia juga naik daun di ranah otomotif bersama Sekutomotifnya, ketika masih SMA Gofar sering menempel poster mobil-mobil yang waktu itu tentu saja tidak terbayang akan dimilikinya sekarang. Tapi siapa yang tahu, puluhan tahun setelahnya, mobil-mobil itu ada di garasinya.
Nama lain yang sering menyelipkan soal mimpi adalah Erix Soekamti. Berawal dari kariernya di musik bersama grup Endank Soekamti, lalu mewujudkan mimpi-mimpi lainnya lewat DOES University, sampa rupa-rupa bisnis di ranah wisata. Berbeda dengan Jalu dan Gofar yang menempel poster, Erix “menempelkan” tulisan “I’m Possible” lewat tinta dan jarum ke lengannya.
Apakah Benar Jadi Nyata?
Pernahkah kita para public relations menaruh banyak post it di area kerja kita? Baik itu yang berada di kantor PR agency Jakarta, atau untuk para PR di berbagai daerah lain di berbagai penjuru Indonesia. Salah satu tujuannya memang mempermudah proses penyelesaian tugas-tugas kita. Tapi di sisi lain, dengan kita menuliskan dan memajang tugas-tugas tersebut, tanpa disadari ada kekuatan lebih untuk menyelesaikan semuanya.
Sebenarnya kertas post it sama dengan memajang gambar, hanya beda bentuknya. Dari pengalaman banyak orang, proses memajangnya bisa kita lakukan secara fisik di area kerja atau kantor, juga dalam format digital di media sosial. Jadikan berbagai ruang itu “dinding” untuk terus mengingat tujuan dan mimpi-mimpi kita sebagai public relations, baik itu besar maupun kecil.
Secara tidak langsung, orang-orang yang melihat “poster” yang kita tempel mungkin saja mengirimkan doa, bukan tidak mungkin juga jadi perantara yang maha kuasa untuk menyampaikan benda atau brand deals ke PR agency Jakarta. Ibaratnya melempar umpan ke lautan, kita tidak akan pernah tahu umpan mana yang akan ikan makan.
Apakah pasti kejadian? Coba kalian tanya ke orang-orang yang pernah melakukan hal serupa biar lebih mendapat kepastian. Kalaupun belum, artinya kita sebagai public relations perlu berkompromi lagi dengan yang namanya kesabaran. (*)
