Ngasih Dulu Baru Jualan dengan Framework HUMAN

(ditulis untuk materi di advo public relations agency indonesia)

Siapa yang masih “alergi” sama kata jualan? Padahal di ranah public relations, jualan juga punya peran penting lho. Kok bisa? Ya itulah memang nyatanya kehidupan ini banyak sekali unsur transaksionalnya termasuk PR agency.

Masih bingung juga? Contoh yang paling kelihatan adalah seorang public relations melakukan negosiasi dengan klien ataupun calon klien. Buat PR agency yang basisnya di Jakarta Indonesia, biasanya berangkat dari janjian makan siang atau makan malam sambil networking night.  Sementara di belahan Indonesia yang lain, pastinya juga ada kultur-kultur sejenis yang ujungnya sama, jualan.

Dari proses negosiasi itu, proses jualan masih terus berjalan. Waktu berhadapan dengan kondisi bujet ternyata perlu penyesuaian dari klien, ini artinya sebagai praktisi public relations ataupun PR agency yang berdomisili di Jakarta Indonesia, itu juga bentuk jualan.

Beneran nih kita lagi jualan?

Salah satu buku yang memperluas perspektif jualan adalah To Sell Is Human karya Daniel H.Pink. Salah satu kutipan yang bakal sangat relevan dengan pelaku industri komunikasi termasuk PR agency yang pastinya nggak cuman di Jakarta ataupun Indonesia, tapi seluruh dunia adalah “Today, we’re all in the moving business. We’re all in sales,” tulisnya. 

Pernyataan Daniel Pink adalah cap validasi kalau kita yang berada di industri komunikasi alias public relations adalah para penjual di keseharian. Nggak terkecuali di keseharian semisal meyakinkan pasangan untuk dapat persetujuan membeli sesuatu yang kita inginkan. Itu juga bentuk jualan.

Kalau sama-sama sudah mengamini public relations juga akan melakukan aktivitas jualan secara profesional, berarti langkah berikutnya adalah menajamkan proses berjualan kita.

Kita jualan sama manusia alias human 

Namanya transaksi jual beli, pasti terjadinya antara manusia dan manusia. Termasuk di dalamnya public relations dan PR agency yang ada di Jakarta Indonesia. Nggak cuman Jakarta, tapi semua daerah di Indonesia pastinya juga sama. Kondisi yang pastinya sama di seluruh belahan dunia.

Karena transaksi jualannya antar sesama manusia, framework yang kita pakai juga bernama sama, H U M A N. Konsepnya adalah Hear and Speak Well (belajar mendengar untuk bisa bicara baik). Lalu berlanjut ke U yang mewakili Understands by Asking (memahami lewat bertanya). M di sini adalah representasi Multi Team Player (adaptif untuk kerja bareng). Berikutnya ada A yang mewakili Aware of Customer Needs (tahu apa yang konsumen butuhkan), dan terakhir N untuk Never Bothered by No (berdamai dengan penolakan).

Framework HUMAN tentunya sangat cocok dengan sisi para public relations dan PR agency. Kita mulai lagi dari H, representasi dari Hear & Speak Well. Sederhananya ini adalah kemampuan berkomunikasi yang tentunya sangat erat dengan public relations. Komunikasi juga punya dua cabang verbal, dan tulisan. Menguasai keduanya, akan menjadi amunisi terbaik untuk jualan.

Public relations dan PR agency yang baik tentu memiliki produk dan layanan andalan untuk jualan. Tapi seberapa sering para pelaku industrinya menanyakan kebutuhan calon klien sementoknya ketimbang jualan seintens-intensnya.  Nah, lanjut ke huruf M yang ada di tengah dari HU M AN. Multi Team Player artinya adalah bagaimana sebuah PR agency dan tentunya public relations bisa saling berkomunikasi butuh apa, dari/oleh siapa, dan kapan waktu butuhnya. Kenapa butuh bantuan itu, sebelum mengatakan apa yang diperlukan, sampai akhirnya memahami framework dan memberikan umpan balik (feedback) ke orang yang kerja bareng. 

Masuk ke dua huruf terakhir nih, seberapa banyak PR agency dan pelaku public relations di Jakarta atau daerah-daerah lain di Indonesia yang benar-benar memahami kebutuhan konsumen. Apakah identitasnya, mereka butuh waktunya, mencari rasa aman atau apa? Sampai yang terakhir adalah N untuk Never Bothered by No. PR agency mana yang nggak senang ketika mendapat order, tapi bagaimana ketika kalah pitching, atau jualan layanan sebagai public relations mendapat penolakan? Kalau di titik ini para pelaku industri sudah bisa lebih nyaman atau setidaknya sama nyamannya dengan ketika jualan “kemakan”, maka itu artinya U dan A dari framework H U M A N sudah berjalan sesuai tujuan.

Last but not least, public relations dan PR agency jelas perlu terus mengasah menjadi sosok penjual yang andal. Semoga bermanfaat bagi Anda yang sedang menjalankan bisnis PR Agency di Jakarta  (*)


Share the Post:
Leave a message

Related Posts