Seberapa sering public relations menerima brief dari klien ketika mendapat sebuah campaign, “Kita mau pakai KOL yang bisa mengonversi campaign ini ke (sekian) angka target penjualan yah,”. Selepas mendapat brief ni, hampir bisa dipastikan seisi kantor PR agency Jakarta akan langsung sibuk menyusun strategi, sebelum kepusingan lebih melanda ketika campaign berjalan dan belum menemukan KOL yang pas.
Nah, ada beberapa strategi yang bisa jadi pegangan para public relations, dan memahami apakah KOL yang selama ini memegang angka (Follower, Subscriber, yang fantastis), tapi ketika beralih ke konversi, maka hasilnya belum tentu sama. Apa saja caranya?
Cari KOL yang mampu memposisikan produk dengan nilai jual & bersaing
Kultur menikmati kopi, salah satunya berawal dari Jakarta yang amplifikasinya cukup mendominasi ke berbagai daerah lain di Indonesia. Tentu PR agency Jakarta juga masih ingat dengan term “Kopi Senja”. Nah ketika ada klien yang ingin mengamplifikasi tren ini, apakah KOL perlu membuat produk kopi, atau produk turunan yang masih berhubungan dengan kebiasaan ngopi ini.
Misalnya, tumbler. Lho, sudah begitu banyak penjual tumbler di Indonesia, ngapain nambah-nambah lagi? Disinilah peran public relations untuk merancang pembedanya.
Perlu kembali ke konsep dasar value dalam berjualan. Memang ada produk yang perlu mencapai target penjualan, tapi apa nih nilai lebih lainnya? Kolaborasi adalah salah satu hal yang bisa jadi pertimbangan. Kembali lagi ke soal “Kopi Senja” tadi, selain membuat produk kopi, membuat tumbler kolaborasi KOL dengan semua kedai kopi di seluruh Indonesia berpotensi menjadi campaign dengan extra value untuk PR agency Jakarta.
Pastikan Ada Nilai Tambah dari KOL dan Produknya
Dalam istilah bisnis, ada yang namanya value chain. Masih soal campaign kopi dari KOL dan klien PR Agency Jakarta tadi misalnya, petakan dulu apa-apa yang bisa didapat dari audiens KOL-nya, klien yang berkolaborasi, dan tentunya KOL dan public relations.
Untuk audiens, apakah mereka akan mendapatkan produk berkualitas? Bila bahasannya dalam “kopi senja” tadi adalah tumbler, kalau jawabannya iya, bisa berlanjut ke pertanyaan berikutnya, “Apakah harganya terjangkau ketimbang kompetitor?”
Pastikan juga pihak-pihak yang berkolaborasi bisa mendapatkan benefit dari setiap produk yang terjual. Mulai dari awareness, traffic, sampai tentunya penjualan. Sementara KOL dan klien PR agency Jakarta, bisa mendapat value dari campaign dan membangun kedekatan antara audiens dan KOL, yang tentu akan membawa klien dan public relations di belakangnya.
Mengkonversi Data Angka ke Nilai Jualan
Para KOL yang terafiliasi atau setidaknya biasa bekerja sama dengan PR agency Jakarta, atau daerah-daerah lain di Indonesia, maka perlu dibuat piramida yang dari awal mengerucutkan awareness -> interest -> desire-> action. Katakanlah KOL ini mampu menghadirkan awareness ke 100.000 orang, bergeser ke interest bisa turun menjadi 10.000 orang, lalu desire bisa membuatnya turun ke 1000 orang, dan yang akhirnya membeli (action) bisa 50-100 orang.
Nah formula inilah yang dipakai untuk bisa menghasilkan jumlah action sesuai target dari klien PR agency Jakarta. Jangan lupakan juga sumber awarenessnya datang dari mana. Apakah Stories, Single Post, Carousel, atau video pendek. Tentukan juga platformnya dan kalau ada ketidaksesuaian, berarti ada yang “bocor” di tengah jalan. Bisa jadi awareness besar, tapi action masih kurang. Ini artinya di interest dan desire perlu kembali mendapat perhatian ekstra para public relations. Strategi inilah yang nantinya menjadi bagian dari scope of work atau SoW dengan KOL pilihan dan target dari klien pun besar kemungkinan tercapai. (*)
