(ditulis untuk advo PR agency jakarta Indonesia)
Arus informasi sudah semakin deras. Medium distribusinya juga kian beragam dan perubahannya seolah tidak memberi nafas praktisi industri untuk menyusun strategi. Di sisi yang lain, persebaran informasi yang begitu cepat seolah meninggalkan pergerakan public relations yang pastinya ingin mengedepankan tanggung jawab untuk mencapai tujuan.
Di Indonesia, apalagi kota besar seperti Jakarta, masih menjadi pusatnya PR agency jakarta Indonesia. Dengan tipikal kota yang hampir terus “hidup”, perputaran arus informasi berbanding lurus dengan upaya penduduknya untuk bisa sampai dari dan ke tempat tujuan aktivitas mereka secepat-cepatnya.
Sebagai ranah yang beririsan dengan industri media, saat slow journalism sedang bergaung, rasanya PR agency jakarta Indonesia juga perlu melirik pakem yang satu ini. Kata kuncinya pun sama, “ketelatenan”. Kadang ketika menghadapi suatu kondisi, pergerakan public relation juga masih cenderung mengejar kecepatan.
Kecenderungan takut akan ketinggalan
Tentu masih membekas di ingatan, berapa banyak press release yang jadi target PR agency untuk jadi “makanan” media konvensional yang kini terus struggling untuk bertahan di derasnya new media di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Dengan Slow PR, pendekatan utamanya bukan lagi jumlah, tapi bagaimana membangun resonansi isu yang memberi dampak, dan tepat sasaran.
Tak ada salahnya juga untuk menengok lagi, kapan terakhir kali sebagai PR agency jakarta Indonesia berjejaring yang sifatnya memang murni ingin menjalin hubungan dengan mereka yang ada di industri seberang, baik itu jurnalis maupun KOL bukan karena ada kepentingan?
Bukan jadi alasan untuk bergerak lamban
Namanya boleh saja identik dengan istilah selow, yang artinya santai atau tidak terpatok waktu. Justru di sini para pegiat public relations dan agency yang tersebar di seluruh Indonesia harus begitu peka dengan waktu. Penulis buku The Slow Leadership Andrew Prasatya yang belum lama merilis bukunya di Jakarta Selatan menyatakan bila slow dalam konteks kepemimpinan adalah bagaimana mengapresiasi setiap proses.
Bicara soal proses, tentu menjadi sebuah hal yang sangat klasik, mengingat apa pun seringkali kita jalani dengan mengedepankan kecepatan, sehingga proses menjadi mudah terlupakan. Padahal jelas, makanan enak perlu proses masak yang tidak sebentar. Mie instan sekalipun perlu beberapa tahapan ekstra untuk menghasilkan rasa yang berkesan.
Slow PR justru memungkinkan penceritaan yang mendalam. Kita bisa merancang “amunisi” dengan personalisasi bila tujuan akhirnya adalah amplifikasi. PR agency perlu memberikan sentuhan olah data kalau targetnya memang memerlukan data yang spesifik. Kemas sisi humanis untuk mengemas narasi sehingga apa yang orang terima bukan sesuatu yang kesannya “jualan sentris”.
Slow PR & Potensi Naiknya Attention Span
Pergerakan algoritma, sistem media sosial, dan tentunya perguliran informasi di media konvensional memunculkan adanya kecenderungan pendeknya waktu untuk memberi perhatian pada suatu hal. Tapi justru ketika pelaku public relations maupun PR agency mengimplementasikan Slow PR, potensi naiknya perhatian justru bisa terjadi.
Dengan prinsip menjadikan waktu sebagai aset berharga yang tidak akan bisa “dibeli”, proses yang baik justru akan membantu mereka yang akan mengonsumsi apa-apa yang PR agency tawarkan dengan lebih mudah.
Press release dengan personalisasi untuk masing-masing media dan KOL misalnya, dengan penyesuaian apakah media atau KOLnya ada di Jakarta atau daerah-daerah lain di Indonesia. akan cenderung mempermudah pelaku industri media untuk memutuskan bagaimana mengolahnya. Secara tidak langsung, Slow PR menciptakan sinergi, dimana pihak PR agency jakarta Indonesia maupun media, KOL, ataupun klien bisa merasa saling memberi dampak. (*)
