(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Belakangan sedang hangat perbincangan tentang ketidakpastian industri. Dari mulai media, sampai sektor yang beririsan seperti public relations dan tentunya PR agency yang jadi payungnya. Kondisi ini memancing reaksi dari berbagai kalangan di kota besar seperti Jakarta, dan tentunya teman-teman yang berada di Indonesia bagian lainnya.
Sebagian kalian yang membaca mungkin bertanya-tanya maksud adanya tanda kutip, tentu sudah jelas bila ada makna dari sebuah kata. Mungkin sebagian orang mencoba menerka-nerka. Tapi bagaimana kalau kita lanjut dulu?
Berburu “jaket berbulu”
Siapa pun pasti menginginkan kenyamanan. Kehangatan di saat dingin, kelembutan pakaian yang dikenakan, dan sama juga dengan karier profesional para public relations pastinya. Juga rasanya tidak ada PR agency yang mau harus terus “pahit”.
Belakangan hari ke hari juga dipenuhi pemberitaan pemangku kebijakan yang membuat gerah para pekerja di berbagai ranah, sebenarnya semua pihak besar kemungkinan sama-sama mendamba kenyamanan. Coba tengok kiri dan kanan dalam jarak pandang yang tidak terlalu jauh, semua orang pasti ingin kestabilan, dan rasa minim kerisauan, akan lebih baik lagi kalau mendapat belaian.
Para public relations ataupun pegiat PR agency yang sudah lebih dari 5 tahun di ranah ini pasti mengalami transformasi media dari era keemasan media cetak, mencicipi broadcast, dan banyak bermain dengan media online sampai new media tentu juga sempat merasakan masa-masa keemasan tiap media.
Dulu di era media cetak bentuk iklan sebagai sarana untuk mendapatkan cuan eksplorasinya begitu beragam. Untuk media-media yang ada di Jakarta pasti sudah akrab dengan media cetak spot UV, window cover, emboss, sampai berbagai metode cetak yang mengimpresi (sampai ada mini LCD sebagai bentuk advertorial sebuah majalah-red). Sementara media-media daerah di berbagai penjuru Indonesia memiliki karakternya sendiri yang menjadi nilai jual bagi para klien yang pastinya beririsan juga dengan para PR agency dan public relations di dalamnya.
Tapi coba perhatikan ketika era awal media online yang mendistorsi bagaimana pengiklan yang mulai ingin eksplorasi ruang baru untuk sarana pemasaran. Hal yang serupa juga rasanya terjadi di ranah broadcast sampai munculnya era new media dimana TV atau radio kini ada di genggaman pengguna.
Balon-balon yang Meletus
Distorsi-distorsi pada industri ini sebenarnya bukan hal baru. Di industri yang lain ada era keemasan ring back tone alias RBT. Banyak sekali musisi Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia yang mendapat keuntungan finansial dengan adanya layanan ini. Tentu bukan tanpa pro kontra, tapi setidaknya era ini bertahan sampai belasan tahun sampai di Oktober 2011 terjadi insiden “Black October” yang menampar musisi, label, dan operator seluler.
Kondisi serupa juga terjadi di layanan transportasi daring yang meroket di tahun 2015. Hujan driver online terjadi seperti halnya lautan kreator dan pelaku new media di era sekarang. Praktis membuat para public relations dan PR agency perlu memetakan ulang nama-nama yang akan ditawarkan ke klien. Namun hampir satu dekade berselang, para driver yang tadinya mendapat keuntungan ekstra berlimpah dalam sehari, “nafasnya” mulai tersengal-sengal di beberapa tahun terakhir.
Tentu juga masih membekas di ingatan ketika era senjakala media cetak membuat banyak pemilik dan pekerjanya harus merelakan “jas berbulunya” lapuk dimakan zaman. Tamparan keras dan tak sedikit yang sulit untuk menerima kenyataan.
Jangan Lengket dengan “Jas”?
Mari sama-sama tarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Mungkin sebagian dari kita pernah merasa berada di zona aman dan nyaman dengan “jaket-jaket” kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada rasa jumawa. Coba tengok kembali masa-masa begitu bangganya dengan jas almamater.
Rasanya juga tidak ada yang salah saat kita bangga sedang memakai “jas” kita. Di satu sisi ini bentuk apresiasi terhadap diri sendiri sebagai public relations dan entitas PR agency yang membuat kita berada di posisi sekarang.
Tapi pertanyaannya kembali ke judul tulisan ini. Kalau suatu saat kita harus melepas “jas” masing-masing, sudahkah kita siap (dan rela), sebagai bentuk dari adaptifnya kita sebagai individu maupun entitas? (*)
