Public Relations (Benar-benar) Perlu Perencanaan?

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Minim perencanaan atau tanpa perencanaan?

Pekerjaan public relations dalam payung PR agency adalah bagian dari aktivitas kreatif, yang tentunya juga beririsan dengan kesenian. Nah di sini adalah kuncinya. Kita ambil contoh Sid Vicious, pemain bas grup punk Sex Pistols. Sudah banyak sekali video, literasi, dan wawancara yang menggambarkan betapa “terencananya” sosok seorang pemain bas dari sebuah grup yang sangat “tertata”. Dua tanda kutip pada terencana dan tertata di sini tentu saja bentuk sebaliknya.

Mungkin terdengar tidak berimbang, yang satu musisi (dan punk pula), apa hubungannya dengan public relations apalagi PR agency dan selingkar wilayahnya? Justru di sini irisannya. Bayangkan seorang public relations dengan mindset seperti Sid Vicious. Minim rencana, atau lebih tepatnya memecah rencana besar jadi rencana-rencana kecil, atau dengan memikrokan rencana.

Contoh lain adalah karakter Sony Hayes dalam F1 The Movie yang diperankan oleh Brad Pitt. Hayes adalah sosok yang oleh rekan-rekan dalam tim balap dimana ia ada di dalamnya dikenal “tanpa rencana”. Tentu ini berpotensi menuai kontroversi dalam tim apalagi ketika diterjemahkan dalam koridor public relations yang bekerja untuk PR agency.

Memikrokan rencana juga berpotensi “meringankan” kepala para public relations. Tidak perlu terus memikirkan minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Tapi sebagai bagian dari PR agency yang ada di kota besar seperti Jakarta atau untuk yang sedang merintis karier public relations di berbagai daerah di Indonesia, tidak ada salahnya mencoba eksekusi ke sebanyak mungkin bagian. Hasilnya? Memang tidak ada jaminan lebih baik dari keteraturan mutlak. Tapi, siapa yang tahu konsep-konsep unik bahkan out of the box justru muncul dari sini. (*)

Hampir di setiap aktivitas public relations selalu lekat dengan perencanaan. Coba tengok dulu, seberapa banyak aktivitas perencanaan di keseharian. Hal yang sama juga rasanya umum terjadi di PR agency. Mulai dari content plan alias perencanaan konten, timeline project atau periode pengerjaan proyek, sampai semua rencana jangka pendek dan jangka panjang demi keberlangsungan PR agency.

Sejatinya, banyak bisnis yang begitu terikat dengan perencanaan. Salah satunya adalah untuk mengatur ritme, di kota dengan kesibukan luar biasa seperti Jakarta, perencanaan kerap menjadi tumpuan dengan tujuan semua bisa terselesaikan dalam keteraturan. Sementara untuk daerah-daerah lain di Indonesia, perencanaan kerap jadi “perangkat” supaya tidak terbawa suasana yang terlalu “pelan”.

Nah, tapi apakah memang ranah public relations dan tentunya PR agency yang begitu beririsan dengan media, KOL, dan selingkar wilayahnya memang sebutuh itu pada yang namanya perencanaan?

Perencanaan (Katanya) Mempercepat Penuaan

Sebagai public relations, mungkin kita sering mendapatkan pernyataan “Jadilah relevan,”. Bagaimana tidak, bekerja di PR agency secara tidak langsung kuncinya juga adaptif, meskipun tidak serta merta menjadi pilihan.

Terlebih kalau lokasi kerja kita sebagai public relations adalah barometer tren seperti Jakarta. Walaupun belakangan sudah mulai banyak upaya untuk tidak (terlalu) Jakarta sentris, dan jadi celah untuk pelaku PR agency di berbagai penjuru Indonesia. Nah, lalu apa hubungannya perencanaan dengan relevan?

Jawabannya justru disitulah awal permasalahan. Perencanaan adalah bentuk keteraturan yang dibangun belasan, bahkan puluhan tahun perjalanan kehidupan. Artinya identik sekali perencanaan dengan jam terbang yang dalam kata lain membuang umur alias suka atau tidak suka mengamini penuaan. Padahal untuk bisa relevan, salah satu yang perlu kita pegang adalah melirik atau bahkan berteman dengan generasi yang sekarang sedang jadi pusat perhatian. Beberapa tahun lalu era milenial, lanjut Gen-Z, kedepan Gen Alpha, dan pastinya akan ada generasi-generasi baru yang percaya atau tidak, jauh dari perencanaan. 

Minim perencanaan atau tanpa perencanaan?

Pekerjaan public relations dalam payung PR agency adalah bagian dari aktivitas kreatif, yang tentunya juga beririsan dengan kesenian. Nah di sini adalah kuncinya. Kita ambil contoh Sid Vicious, pemain bas grup punk Sex Pistols. Sudah banyak sekali video, literasi, dan wawancara yang menggambarkan betapa “terencananya” sosok seorang pemain bas dari sebuah grup yang sangat “tertata”. Dua tanda kutip pada terencana dan tertata di sini tentu saja bentuk sebaliknya.

Mungkin terdengar tidak berimbang, yang satu musisi (dan punk pula), apa hubungannya dengan public relations apalagi PR agency dan selingkar wilayahnya? Justru di sini irisannya. Bayangkan seorang public relations dengan mindset seperti Sid Vicious. Minim rencana, atau lebih tepatnya memecah rencana besar jadi rencana-rencana kecil, atau dengan memikrokan rencana.

Contoh lain adalah karakter Sony Hayes dalam F1 The Movie yang diperankan oleh Brad Pitt. Hayes adalah sosok yang oleh rekan-rekan dalam tim balap dimana ia ada di dalamnya dikenal “tanpa rencana”. Tentu ini berpotensi menuai kontroversi dalam tim apalagi ketika diterjemahkan dalam koridor public relations yang bekerja untuk PR agency.

Memikrokan rencana juga berpotensi “meringankan” kepala para public relations. Tidak perlu terus memikirkan minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Tapi sebagai bagian dari PR agency yang ada di kota besar seperti Jakarta atau untuk yang sedang merintis karier public relations di berbagai daerah di Indonesia, tidak ada salahnya mencoba eksekusi ke sebanyak mungkin bagian. Hasilnya? Memang tidak ada jaminan lebih baik dari keteraturan mutlak. Tapi, siapa yang tahu konsep-konsep unik bahkan out of the box justru muncul dari sini. (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts