Public Relations Masih Perlu Influencer Marketing?

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Di tengah perubahan algoritma, hari-hari penuh deadline dari klien-klien berbagai PR agency, pemasaran alias marketing jelas makin diperlukan. Tapi sejumlah public relations merasa influencer marketing sudah kurang atau bahkan tidak relevan.

Buat PR agency yang basisnya di Jakarta, distorsi ini lumayan jadi batu sandungan. Sementara untuk pelaku public relations yang tersebar di seluruh Indonesia, masih punya celah eksplorasi medium marketing konvensional. Tapi sebenarnya bagaimana sih influencer marketing ini?

Jangan-Jangan Keliru “Kolam”

Ketika memutuskan menggunakan influencer marketing, apakah para public relations benar-benar tahu cara “bermain” dengan jasa ini? Kalau memang sudah tahu caranya, apakah yakin eksekusinya sudah benar?

Rata-rata influencer jadi kian meyakinkan dengan angka-angkanya yang punya potensi mengaburkan. Secara dimata klien PR agency pastinya sering ada permintaan untuk menggunakan jasa mereka. Perkara yang lain terjadi kalau sudah bayar mahal tapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.

Nah kenapa nih kok bisa kejadian begini. Apakah yang problem di influencer marketingnya, PR agency-nya, atau klien yang begitu ngotot dengan kesosokan?

Influencer Marketing Bukan Sekadar Soal Angka

Beberapa klien PR agency apalagi di kota besar seperti Jakarta, memang masih “mendewakan” angka-angka dari influencer. Alhasil mereka sukses menjadi “icon”. Nah di sinilah peran public relations untuk tidak menjadikan mereka sekadar menjadi pajangan, tapi juga rekanan untuk mencapai tujuan.

Bagaimana caranya? Salah satu yang public relations perlu perhatikan adalah mencari simpul dimana si influencer ini bisa mendapat perpanjangan tangan untuk mencapai tujuan. Misalnya dengan menggandeng komunitas. Memang jadinya Scope of Work (SoW) baru, tapi demi manfaat untuk kedua pihak, rasanya bisa menjadi pertimbangan.

Daerah Juga Bisa Jadi Penentu Arah

Sudah sejak lama Jakarta jadi barometer tren, termasuk di ekosistem public relations dan PR agency. Kota-kota lain di Indonesia, seperti Bandung dan Jogja muncul dengan karakter masing-masing belakangan. Tapi di luar kota-kota ini, ketika bicara influencer marketing, banyak hal bisa dieksplor.

Salah satunya adalah menjadikan influencer di tiap kota dengan “muara” mega influencer. Kombinasi seperti ini potensial menghasilkan multiple numbers. Datangnya dari influencer dari berbagai kota di Indonesia yang terus teramplifikasi ke mega influencer. Lagi-lagi PR agency dan para public relations yang ada di Jakarta harus ekstra sibuk, tapi lagi-lagi peluang hasilnya akan sangat menjanjikan.

Penggunaan influencer dari daerah yang bermuara ke mega influencers ini juga berpotensi untuk membuat konten yang “jualan banget” tapi juga di mata audiens berkesan seperti konten yang organik. Contoh nyatanya adalah ketika ramai film Tilik dari Ravacana Film yang sukses meledak. Datang dari Yogyakarta, setelah meledaknya Tilik muncul lagi sebuah film pendek dengan built in brand di dalamya. Hasilnya, kualitasnya tetap sekelas Tilik.

Model-model seperti ini yang seharusnya bisa PR Agency dan public relations replikasi. Tidak hanya potensi untuk menyampaikan tujuan marketing, tapi juga memberdayakan influencer-influencer di seluruh Indonesia karena mereka juga sama bernilainya (bahkan bisa lebih) dengan banyak influencer. (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts