Aksi Lemah Tapi Penting untuk Public Relations

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Jam terbang petinggi PR agency atau senior public relations biasanya mengacu pada 3 hal. PR yang paling solid mentalnya, suaranya menjadi magnet untuk banyak pihak, dan kekuatan untuk menjadi “nakhoda” sebuah agency, apalagi yang beroperasi di kota besar seperti Jakarta dengan segala hiruk pikuknya yang Indonesia banget.

Industri public relations dan PR agency begitu lekat dengan imej “keras” dan “kuat” supaya bisa mendapatkan kepercayaan lebih banyak klien. Padahal ada beberapa hal yang sekilas kelihatan “lemah” tapi dengan sentuhan yang tepat membuat sosok seorang petinggi public relations ataupun PR agency menjadi lebih mendapat apresiasi dari klien dan pihak-pihak yang kerap diajak bekerja sama, termasuk media dan KOL. 


Dalam buku The Slow Leadership, Andrew Prasatya sebagai penulis yang mempunyai jam terbang cukup tinggi di ranah manajerial menyematkan beberapa strategi untuk bisa menjadi sosok leader yang “dilihat”, dan tentunya sangat cocok diimplementasikan di ranah public relations ataupun kalian yang inigin menjadi owner dari sebuah agency di berbagai belahan Indonesia. 

Berani Mengakui Ketidaktahuan

Jam terbang tinggi seolah identik seorang senior public relations menjadi “ensiklopedia berjalan,”. Nggak jarang juga juga ada yang berada di posisi ini dan akhirnya malah menjadi sok tahu.  Di sinilah bibit maslah tercipta. Lebih baik menjawab “Maaf kalo itu kurang tahu,” dengan gaya masing-masing. Upayakan untuk memberikan kepastian mencari jawaban. Pastikan juga orang yang bertanya tadi tidak merasa kecewa.

Tapi, ada cara untuk membuat jawaban kalian lebih “PR”. Apalagi kalau yang bertanya ini klien, media, atau KOL. Tentu sekadar menjawab “kurang tahu” akan menjadi kureng kalau anak-anak generasi terkini menyebutnya. Akan lebih baik kalau kita menjawab “Halo (nama klien, media, atau KOL). Iya nih lumayan bikin bingung. Nanti coba dipastikan (durasi riset), terus nanti kita ngobrol lagi deh ya.”

Public Relations juga Bisa Keliru

Buat PR-PR yang sudah punya jam terbang tinggi di berbagai PR agency, apalagi nggak cuman pernah kerja di Jakarta tapi juga daerah-daerah lain di Indonesia, melakukan kesalahan nampak menjadi tabu. Ada kekhawatiran pandangan terhadap public relations menjadi berbeda.

Padahal kompetensi bukan bagaimana public relations tidak melakukan kesalahan. Tapi bagaimana ketika terjadi kesalahan bisa dihadapi dengan menyatakan: “Halo (klien/media/KOL), maaf nih kalau kemarin terasa kurang nyaman. Buat urusan yang sudah kejadian kita bisa…”.

PR agency Jangan Ragu untuk Minta Masukan Lintas Generasi

Sesuatu yang juga sering menjadi dilema untuk PR agency, entah itu di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia adalah perkara generasi. Terlalu banyak orang-orang yang berumur atau jumlah public relations gen-z dan gen alpha melahan mendominasi.

Solusi terbaiknya adalah menggabungkan keduanya. Muda mungkin minim pengalaman di atas kertas, tapi soal ide segar mereka beda. Mengapa tidak digabungkan dan masing-masing saling mengapresiasi dan optimalisasi kemampuan lintas generasi?

Satu hal yang kerap luput adalah mereka yang sudah lama berada di industri public relations adalah bagaimana menjaga hubungan eksternal dan internal. Klien yang demanding, atai slow response tapi ketika tenggat waktu sudah sedikit satu tim PR agency menjadi harus “bangun candi” adalah bagaimana mencari jalan tengah ketimbang “memecahkan vas”. Ibaratnya, banyak-banyak tarik nafas.


Deretan aksi di atas adalah beberapa hal yang membuat para pelaku public relations terlihat “lemah”, tapi justru langkah-langkah ini  yang potensial membuat PR jadi lebih strong. Siapa nih yang rela melemah untuk menguat? (*)
Share the Post:
Leave a message

Related Posts