(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Meminta mungkin terdengar, “Waduh enggak deh, kayak ngemis-ngemis,”. Apalagi untuk public relations yang harus “meminta” pada pihak-pihak yang potensial untuk bekerja sama. Mulai dari media, KOL, sampai calon klien. Hal yang sama berlaku juga untuk PR agency pastinya.
Kalimat seperti “Boleh kali dibantu nih press release-nya,” atau “Kita bisa nih aktivasi yang lebih seru dari kompetitor,” terasa begitu butuh nyali untuk keluar dari mulut. Naha apakah meminta ini begitu tabu untuk para public relations, apalagi di kota besar seperti Jakarta?
Meminta Potensial Memperpanjang “Nafas” PR Agency
Tanpa meminta, dalam kondisi tertentu mungkin kita akan cenderung pusing sendiri. Padahal Plato sudah menegaskan, “The right question is usually more important than the right answer.” Nah disinilah sebenarnya kita sebagai pelaku public relations perlu menambah satu skillset, “meminta yang benar”.
Terdengar seperti mengada-ada, tapi di sini strategi meminta akan berpotensi menambah pemasukan PR agency, dan dalam jangka panjang, bisa memberikan runway lebih panjang untuk keberlangsungan PR agency. Tidak terbatas untuk PR agency yang ada di Jakarta, tapi juga tentunya berbagai kota di Indonesia.
Pertanyaan berikutnya, apakah para public relations ini sudah benar-benar bisa meminta dengan benar? Mari kita bedah tips & triknya satu per satu.
Bertanya dengan Sangat Spesifik
Di ranah public relations, seperti layaknya media, juga ada segmentasi pembedanya. Misalnya saja tech, beauty, travel, automotive atau yang lainnya. Nah saat mau meminta, jangan terpatok di hal-hal yang “mengambang” atau ngawang-ngawang.
Menurutentrepreneur, investor, penulis, podcaster, dan mentor gaya hidup Timothy Ferriss atau akrab disapa dengan Tim Ferris pernah berkata, “Life punishes the vague wish and rewards the specific ask.”
Bagaimana maksudnya, jadi sebagai pekerja bahkan pemilik PR agency, perlu adanya penegasan “Kenapa meminta? Kita harus meminta apa? Untuk di mana? Berapa banyak? dan Meminta ke siapa?”
Semakin banyak hal yang bisa kita breakdown untuk menjadi pertanyaan dalam koridor kebutuhan public relations maka akan semakin bagus. Perhatikan juga dimana target yang akan kita minta. Apakah berada di Jakarta, atau daerah-daerah lain yang ada di Indonesia? Setiap daerah perlu strategi bertanya yang berbeda-beda juga pastinya.
Spesifik di sini juga bagaimana kita sebagai public relations memberikan manfaat pada siapa yang kita minta. Entah itu calon klien, media, atau KOL. Ibaratnya PR membutuhkan mereka yang kita minta, dan bisa jadi mereka yang kita minta juga membutuhkan kita.
Siap “Membayar” dan Menerima
Namanya strategi meminta adalah sekaligus bagaimana kita siap harus membayar harganya. Sebagai PR agency, kalau kita mendapat kata “iya” dari apa yang kita minta maka itu artinyakita harus siap dengan klien yang demanding, atau muncul di waktu yang tak terduga setelah sebelumnya hening lama. Termasuk juga siap untuk menjalani aktivitas di luar Jakarta dalam campaign tertentu, atau bahkan menyusuri berbagai daerah di Indonesia.
Satu hal yang juga menjadi pelajaran penting para public relations adalah berdamai dengan penolakan. Perlu diingat juga, mendapat penolakan bukan artinya kita tida mendapat apa-apa bukan? Ada pembelajaran, dan banyak hal-hal lain yang biasanya baru kita sadari setelah kita berdamai dengan penolakan.
Jadi, kapan akan (mulai) meminta, atau meminta (lagi)? (*)
