Untuk para pekerja PR agency Jakarta yang sudah melewati masa kerja satu dekade atau bahkan lebih pasti pernah melewati era “informasi yang mahal”. Coba masih ingat era untuk menonton siaran TV swasta juga harus berbayar, bahkan era awal internet rumahan yang begitu mahalnya. Tapi untuk jadi magnet audiens, dua kondisi ini sangat memungkinkan. Kalaupun dalam kondisi finansial belum mampu membayar sewa decoder atau bahkan langganan internet di rumah, hampir bisa dipastikan audiens akan mencari caranya, entah pergi ke rumah teman, tetangga, saudara, atau di ranah internet pergi ke warnet.
Dengan format seperti itu, informasi akan menjadi hal yang mahal. Untuk mendapatkannya ada harga (termasuk tenaga, waktu, dan proses yang tidak mudah). Nah tapi buat para public relations yang melewati masa itu, baik yang aktivitasnya di kota besar seperti Jakarta, atau daerah-daerah lain di Indonesia, sekarang eranya adalah “perang menggaet atensi”. Dari mulai konten berdurasi pendek, sampai banyak lagi lainnya.
Lalu bagaimana strategi supaya kita yang ada di lingkaran PR agency Jakarta bisa menjalankan personal branding yang maksimal? Ada 5 hal yang bisa menjadi bahan pembelajaran.
Bukan Fokus ke Apa yang Bisa Kita Dapat
Dengan membangun personal branding, sebagai public relations kita sedang membuka “toko” dan mempersiapkan etalase. Apa saja yang bisa masuk ke dalam sana? Mulai dari pengetahuan, pengalaman, energi, waktu. Nah berhenti dulu sejenak, untuk mendapatkan apa yang bisa kita tawarkan lebih ke siapa pun yang bisa kita jangkau.
Seorang public relations biasanya punya kemampuan di beberapa hal. Apa yang kita rasa biasa, buat orang lain bisa jadi itu luar biasa. Jangan ragu juga untuk memberikan lebih, karena apa pun yang kita berikan lebih, ada potensi untuk bisa “menjaring” lebih banyak.
PR Agency Jakarta Harus Membuat Konten?
Ketika membuat konten, ada kecenderungan hasrat untuk berjualan. Hal yang wajar, namanya juga butuh “bensin”. Tapi takarannya yang perlu kita perhatikan. Buat komposisi yang pas antara jualan dan berbagi pengalaman. Bagaimanapun edukasi harus berada di atas jualan. Jadi sebagai public relations, pastikan komposisinya seimbang.
Satu hal yang perlu jadi catatan adalah ketika kita bisa menjadi pemantik orang untuk mengeksplor hal baru, orang ini akan terus “menempel” ke kita.
Tahu Kolam Mana yang Perlu Kita Rawat
Ada banyak sekali ruang rilis konten. Kalau dulu audiens yang berjuang untuk mendapatkan informasi, sekarang justru para pembuat konten inilah yang berlomba-lomba mendapatkan atensi audiens.
Di sinilah peran PR agency Jakarta. Lewat berbagai campaign yang pernah dijalankan sebelumnya, kita implementasikan ke dalam beragam format konten dengan modifikasi sesuai dengan impresi yang kita bangun.
Angka Bukan Segalanya
Salah satu lagu band hardcore komedi dari Jakarta, Gledeg punya satu single berjudul “Angka”. Potongan liriknya menyebutkan “…. kita butuh angka,”. Apa pun begitu butuh angka. Untuk PR agency Jakarta, angka-angka juga menjadi metriks yang kadang terkesan menarik.
Misalnya ketika ada campaign yang berhasil menjaring banyak interaksi. Apakah ini artinya pergerakan berikutnya adalah mengikuti secara utuh format dan jenis konten untuk distribusi informasi untuk mendapatkan angka yang sama atau bahkan lebih?
Tentu saja belum tentu. Karena angka besar itu belum tentu sesuai dengan target yang kita cari. Tapi bisa jadi juga angka-angka yang biasa saja bahkan kecil tapi pengaksesnya adalah audiens yang royal, akan lebih berguna untuk para public relations.
Etalase Personal Branding, Bukan untuk Mastering
Kembali ke pernyataan di bagian awal, kalau sebagai public relations bagian dari PR agency Jakarta kita harus menjadi pakar di hal tertentu yang kita bagikan. Padahal personal branding bukan sekadar soal keilmuan berbasis pengalaman. Bisa juga rasa penasaran, bahkan pertanyaan yang memancing obrolan.
Jadi, sudah sampai mana perjalanan personal branding kita sebagai public relations?
(*)
