Kehidupan modern menyajikan banyak produk instan. Tapi konsekuensinya adalah pace hidup yang lebih cepat. Pekerja PR agency Jakarta hampir bisa dipastikan akrab dengan segala hiruk pikuk macam ini. Berangkat masih gelap, pulang gelap sudah jadi hal yang sangat lumrah.
Kecepatan juga cerminan beragam daerah di Indonesia. Kultur buru-buru adalah cerminan para pekerja kota besar. Sementara daerah lain PRagency juga masih memiliki waktu jeda. Buru-buru mungkin bisa membuat sampai ke tujuan, tapi banyak hal yang potensial jadi masalah di belakang.
Terburu-buru berpotensi menyimpulkan di saat kita belum kita belum sampai ke “ujung”. Masalah berikutnya dalah ketika telanjur mengambil opini sebelum sempat meriset secara utuh, dan yang paling potensial jadi pekerjaan rumah tambahan kalau gara-gara buru-buru berbuah kesalahan pengambilan keputusan.
PR Agency Jakarta Bukan Semata Siapa yang Paling Cepat
Meskipun identik dengan “berlari”, ada satu hal yang perlu menjadi catatan penting lain di keseharian PR agency dan para public relations di dalamnya. Di situlah penasaran memegang peranan. Penasaran adalah proses melambat untuk bisa menganalisis suatu hal atau isu dengan waktu lebih lama.
Memang kata waktu yang lama seolah menjadi istilah yang tabu di dunia PR agency Jakarta. Tapi ada pertanyaan penting yang perlu mendapat cetak tebal. Siapa sebenarnya yang memintapublic relations menjadi serba buru-buru. Apakah klien, atasan, partner setim, atau jangan-jangan hanya seolah-olah ada?
Menjadi public relations yang baik adalah proses. Sementara sejauh ini proses yang baik memang cenderung datang dari proses yang bukan buru-buru. Dengan kata lain lebih mengeksplorasi rasa penasaran. Bagaimana kita bisa mengasah hasrat eksplorasi untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal sebagai public relations.
Manfaat Memupuk Rasa Penasaran untuk Public Relations
Saat rasa penasaran tim PR agency tinggi ada beberapa kecenderungan yang berpotensi menguntungkan. Mulai dari masalah di dalam tim yang melibatkan sesama anggota tim sendiri. Perubahan haluan yang begitu tiba-tiba dari klien juga bisa lebih kita petakan strateginya. Akhirnya pergeseran industri yang makin kompetitif juga bisa kita siasati.
Di sinilah PR agency Jakarta yang identik dengan segala kecepatan dan keterburu-buruan itu perlu mengimplementasikan rasa ekstra penasaran sebelum mengambil keputusan. Nah pertanyaan berikutnya adalah bagaimana strategi penerapannya?
Pertama, para public relations harus menyiapkan sejumlah daftar pertanyaan. Mulai dari kejadian apa yang sedang berlangsung saat ini? Lalu berlanjut ke dari mana sumber informasi kejadian ini? Berdampak apakah situasi yang terjadi sekarang? Lalu bagaimana kondisi idealnya di sebuah PR agency? Mengapa bisa masuk dalam kondisi ideal? Sampai parameter apa saja yang dipakai dalam kondisi ideal?
Berikutnya adalah mengolah sudut pandang. Bagaimana kita bisa mengambil perspektif dari berbagai “kacamata”. Tidak terbatas di 2 pandangan, bahkan bisa sampai 4 cara pandang. Tanyakan juga berbagai situasinya ke diri sendiri.
Satu hal yang juga perlu diingat adalah apa yang kita lihat dan rasakan hari ini, sebenarnya besar kemungkinan di masa lalu juga pernah kejadian, termasuk di ranah PR agency. Sebagai public relations penting untuk melakukan riset dan memahami situasi yang sama di kala itu.
Penulis seri “4 Hour” asal Amerika Serikat (AS) Timothy Feriss atau akrab disapa Tim Ferriss pernah berujar, “Are there any people less intelligent, less driven, or less resourceful than me who have figured this out before?”. Akhirnya yang membuat para PR agency seolah lebih pelan ini adalah pernyataan seorang aktor, penyanyi, dan seniman Amerika André Robin De Shields, “Slowly is the fastest way to get to where you want to be”. Jadi sudah seberapa penasaran saat ini? (*)
