Inilah Kenapa PR Agency Jakarta Perlu Memberi Lebih

Rasanya kita semua sepakat kalau public relations adalah soal pelayanan. Nah bagaimana melayani dengan lebih baik salah satunya dengan mencari referensi literasi. Salah satu buku yang boleh jadi bacaan wajib PR agency Jakarta, dan juga semua daerah di Indonesia adalah Unreasonable Hospitality, karya Will Guidara. 

Sempatkan untuk membaca bukunya, tapi kalau belum berikut adalah beberapa pembelajarannya.

Berilah Lebih, Bahkan Di luar Dugaan

Beberapa orang sepakat bila kejutan menyenangkan, mungkin sebagian lainnya merasa menyebalkan. Tapi memberi pelayanan yang baik adalah bare minimum sebuah bisnis jasa atau layanan. Namun memberikan hal lebih bisa membuat pihak yang bekerja sama (klien, partner, media, KOL) mendapat perasaan istimewa

Misalnya dengan memberikan perhatian kecil dan ternyata berdampak besar. Contohnya, seberapa sering sebagai public relations kita ingat tamu-tamu undangan berasal dari media/KOL apa dan namanya siapa.

Memberikan layanan lebih membuat jasa PR agency Jakarta unggul ketimbang kompetitor. Bahkan ketika industrinya sudah terlalu rapet alias red ocean. Di Unreasonable Hospitality ada momen sebuah resto fine dining  bernama Eleven Madison Park rela mencari hot dog karena menurut tamunya, punya rasa yang tidak terlupakan. 

Mengedepankan Kepemimpinan dari Budaya Pelayanan

PR agency Jakarta jelas tidak berjalan sendiri. Tapi sebuah tim dengan peran leader yang perlu memberikan contoh. Dalam koridor Unreasonable Hospitality, kepala memegang peran penting bagaimana tim bisa lancar mengamplifikasi hal yang sama kepada klien.

Membaca Kondisi dan Mengantisipasi Kebutuhan

Namanya aktivitas public relations jelas tidak lepas dari deadline dan di saat yang sama harus tetap bisa menjaga keramahan pelayanan sekaligus kecepatan respons. Nah tapi di sini ada “jurus rahasia” ketika PR agency Jakarta bisa memahami apa yang klien butuhkan sebelum mereka bicara.

– Bayangkan dalam meeting menjelang pitching, para public relations bisa membaca bahasa tubuh, tone lawan bicara, bahkan ujaran singkat yang membuat calon klien langsung “klik” dengan perasaan puas terhadap pelayanan di awal. 

– Di tahap berikutnya, tawarkan solusi dengan cara yang tidak menggurui tapi mengena. 

– Era akal imitasi dan perkembangan ekosistem teknologi yang begitu cepat membuat sentuhan yang “manusia banget” memberi kesan lebih daripada sekadar layanan “instan”.

Membesar dan Tetap “Sama”

Ketika entitas masuk ke dalam “kolam” yang lebih besar, ada kecenderungan jadi berjarak. Seperti artis yang berada di panggung tinggi dan fansnya ada di bawah. Padahal klien dan PR agency Jakarta idealnya berada di level yang sama. Nah bagaimana menjaga hal ini?

– Buat pelayanan menjadi bagian dari keseharian. Jadinya konsistensi tetap terjaga dan menjadi kebiasaan para public relations.
Membesar bukan berarti menciptakan jarak. Musisi Danilla menerapkan strategi ini dengan berjualan ringtone yang berisikan kata-katanya dan membuat orang yang membelinya merasa didekati sosok yang selama ini mereka kagumi.
–  Menjaga kualitas layanan bukan berarti membuat sistem yang serba saklek. Kondisikan untuk tetap bisa mengalir dan menjaga kehangatan.

Industri memang sifatnya cenderung transaksional, di sinilah waktunya untuk mengimplementasikan ketulusan, yang potensial membuat banyak pihak kembali, tim bertahan lama dan narasi positif muncul dengan sendirinya. (*)



Share the Post:
Leave a message

Related Posts