Pembelajaran dari Hari Kegagalan Internasional untuk Public Relations

Namanya proses bisnis yang transaksional, pasti ada momen gagal. Setahun sekali ada loh hari kegagalan yang seluruh dunia menandainya setiap tanggal 13 Oktober. Nah bagi PR agency Jakarta, cerita kegagalan juga pasti jadi bagian dari perjalananan. Tapi yang lebih menarik bagaimana para public relations di dalamnya mengubahnya menjadi kesuksesan.

Mendengar dari campaign yang gagal

Mundur jauh ke era 5 tahun setelah Indonesia merdeka, brand DOVE datang dengan Unique Selling Point (USP) ¼ moisturizing cream dan pH balanced. Tapi yang terjadi ketika masuk ke era milenium, penjualan mereka stagnan.

Untuk para public relations, kegagalan ini adalah salah satu bentuk pembelajaran mendengarkan yang menarik. Di tahun 2003, DOVE membuat survey. Hasilnya menarik karena dengan target audiens perempuan, 2% saja yang memiliki perasaan dirinya adalah sosok yang cantik.

Pembelajaran ini menjadi pemantik munculnya campaign “Real Beauty”, sesuai namanya menjadi ajakan untuk para kaum hawa bisa merasa cantik apa adanya. Mendengar dan berubah, salah satu yang bisa jadi “jurus rahasia” PR agency Jakarta.

Kembali ke DOVE tadi, buah kegagalannya adalah “DOVE Real Beauty”. Buah adari momen kegagalan yang memaksa orang-orang di belakangnya belajar mendengar dan terus adaptif.

Kegagalan Adalah Kesuksesan yang Tertunda

Sub judul kali ini terdengar seperti pepatah yang menjemukan. Tapi jika para public relations mau menempatkan pola pikir seperti ini maka kita akan menyadari kesempatan akan datang lagi dari proses yang belum berhasil. Tentunya akan lebih mengecewakan kalau bahkan kesempatannya pun tidak datang.

Di kantor PR agency Jakarta biasanya ada Post-it Notes. Mau sudah era digital sekalipun, ada kenyamanan dan kebutuhan tertentu akan kertas-kertas warna-warni ini. Benda ini juga buah produk gagal, dari perusahaan pembuat lem yang sampai hari ini juga masih populer 3M.

Post-it Notes datang dari kegagalan 3M untuk membuat produk lem yang lengket banget di tahun 1968. Tapi tahun 1974, seorang kolega pakar di 3M menemukan kegunaan Post-it Notes generasi awal untuk penanda buku.

Siapa sangka, 12 tahun setelahnya, begitu banyaknya perusahaan di dunia menggunakan Post-it Notes. Sampai hari ini Post-it Notes muncul dengan berbagai varian warna dan masih tetap ada hampir di banyak kantor.

Pelajarannya, ketika ada momen gagal, para public relations baik yang ada di Jakarta maupun seluruh Indonesia, bisa menyimpan ide alih-alih membuangnya. Siapa tahu “besok” ketemu kunci yang pas.

Gagal Bukan Akhir Karier

Tahun 1997, mungkin kalian yang saat ini ada di PR agency Jakarta masih duduk di bangku sekolah atau malah belum lahir. Tapi ternyata di tahun itu sudah ada layanan bernama Netflix yang bentuknya belum seperti hari ini.

Netflix datang dengan jasa sewa DVD yang akan dikirim ke alamat penyewanya. Hasilnya sukses mendatangkan pelanggan sebanyak….300.000 orang saja. Jumlah yang sangat sedikit sampai di tahun 2000 Netflix merasa patah arang dan berniat menjual perusahaan ke Blockbuster.

Sayangnya Blockbuster malah menolak alias ngelepeh Netflix pada waktu itu. Tapi hari ini para public relations pastinya melihat siapa yang lebih bersinar. Kenapa coba? Karena Setelah penolakan Netflix justru menemukan jurus baru bernama personalisasi (film apa yang bakal disuka dari kebiasaan menonton), menghapus sistem denda di sewa DVD konvensional dan menjadikannya sistem langganan seperti hari ini.

Perjalanan Netflix juga nggak semulus itu, karena di 2011 Netflix sempat hampir kejeblos lagi membuat layanan berlangganan DVD bernama Qwikster. Untung saja Netflix cepat “sadar” dengan mematikan layanan ini kurang dari setahun saja.

Jadi, untuk para public relations di belahan Indonesia manapun, kalau bertemu dengan kegagalan, tenang ini bukan akhir. Tapi ini waktunya perubahan. (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts