(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Masalah utama dari PR agency Indonesia terutama di Jakarta adalah bagaimana bisa menjadikan “aset-aset” yang mereka punya. Dari mulai memiliki aset konten, bank ide, KOL dan media andalan. Nah bagaimana supaya semua aset ini menjadi “peluru”.
Sebagian pelaku public relations sekarang juga mulai menjadi kreator konten. Tren baru di Jakarta dan seperti biasa diiringi daerah-daerah lain di Indonesia. Tapi pertanyaannya apakah konten-kontennya bisa menjadi konversi yang memberikan keuntungan entah itu leads atau bahkan menjadi deals.
Penulis buku The Slow Leadership, Andrew Prasatya, membuat sebuah framework yang potensial cocok untuk pelaku public relations. Menariknya lagi, hanya perlu 30-60 menit untuk mengimplementasikan framework ini.
Framework C R E A T E untuk PR Agency Jakarta
Untuk “C” sebagai huruf pertama dalam framework ini, adalah Clarify The Offer. Sebagai public relations perlu secara spesifik memahami produk, layanan, atau ide yang akan menjadi bahan jualan. Jangan lupakan juga kalau ada banyak sekali PR agency di Jakarta, belum lagi kota-kota lainnya di Indonesia, sehingga pastikan apa-apa yang ada di etalase memang memiliki keunikannya sendiri.
Lanjut ke huruf kedua yaitu “R”. Ini adalah pondasi dari laku tidaknya sebuah produk, karena R-nya adalah Research Audience. Pastikan PR agency memiliki metriks yang jelas, data yang solid, dan mengapa mereka menjadi target konsumennya.
Berikutnya adalah “E” yang menjadi representatif untuk Explore Challenges. Inilah pentingnya PR agency Jakarta memahami masalah dari para klien dan calon kliennya. Juga mereka yang ada di ekosistem seperti media dan KOL.
Setelahnya ada “A” yang mewakili Act with Content. Apakah berbagai varian konten yang menjadi aset atau “peluru” PR agency ini mampu menjadi solusi untuk rupa-rupa masalah yang selama ini membuat pusing para konsumen layanan public relations.
Tinggal dua huruf terakhir untuk para public relations yang ingin mengoptimalkan aset-asetnya. Maka “T” di sini adalah awalan untuk “Test Existing Content”. Para PR agency, baik yang berada di Jakarta, atau kota-kota lain di Indonesia. Mana strategi yang bekerja dan menjadi solusi untuk berbagai permasalahan dan tantangan yang perlu solusi PR
Terakhir ada “E” untuk Expand Distribution. PR agency Jakarta harus secara proaktif menyeleksi kanal distribusi mana yang paling efektif untuk mengarahkan konten ke target audiens yang tepat. Jadi jelas bukan lagi eranya public relations mengarahkan KOL dan media yang bekerja sama atau bahkan konten mereka sendiri bukan sekadar rilis.
Jadi, sudah siap dengan 60 menitnya untuk eksplorasi framework CREATE? (*)
