(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Seberapa sering public relations menjadi pembicara di depan umum? Sebagai praktisi komunikasi, apakah di antara kita masih ada yang merasa memilih untuk tidak terlalu banyak tampil di publik? Untuk PR agency Jakarta, beberapa alasannya biasanya deadline pekerjaan yang sulit untuk berkompromi dengan aktivitas menjadi pembicara, sampai social energy yang menguras tenaga ketika harus tampil di depan umum.
Padahal menjadi pembicara adalah kesempatan untuk belajar untuk para public relations. Tidak hanya untuk para pekerja PR agency yang ada di Jakarta, tapi berbagai daerah di Indonesia. Bagaimanapun, mengeluarkan apa yang kita tahu, adalah bagian dari proses penyerapan ilmu.
Di sisi yang lain, mungkin tidak sedikit public relations yang justru menanti dan mencari kesempatan untuk menjadi public speaker. Bagaimanapun, jalan adalah pilihan, termasuk misi selanjutnya setelah tampil di depan umum.
Membuat Etalase Diri
Selain hari-hari sebagai public relations biasanya perannya lebih banyak di belakang layar, jembatan antara pihak-pihak terkait seperti media dan KOL. Serta mengakomodasi kebutuhan klien. Tapi untuk yang mencari kesempatan tampil ke depan umum, menjadi pembicara juga bisa membawa PR agency Jakarta menggali peluang-peluang baru.
Tapi di sini ada “jebakan-jebakan” dalam membangun etalase diri tadi. Apalagi untuk menjadi bodoh di bidang yang baru. Ujung-ujungnya menjadi alasan untuk para public relations memilih tidak mengambil jalur ini.
Supaya tidak lagi terjebak dalam “kaset lama” tanpa “lagu baru” ada beberapa tips yang bisa jadi modal PR agency Jakarta untuk menjadi public speaker yang diingat.
Tentunya juga pengingat, untuk bisa memberikan manfaat.
5 Tips Jadi Public Relations Jadi Public Speaker yang Diingat
– Boleh jualan, tapi jangan jadi tujuan
Menyambung sebelumnya istilah “etalase”, saat public relations dapat panggung, pasti ada hasrat untuk jualan. Entah itu untuk PR agency di belakangnya, atau diri sendiri. Apakah salah? Tentu tidak dong, tapi bagaimana kita bisa berstrategi menyelipkan jualan kita di bagian-bagian tertentu. PR agency Jakarta memang sering bergulat dengan campaign, tapi titik keberhasilannya adalah ketika public relations jualan, semua yang ada di depan tetap tidak ingin cepat-cepat bubaran.
– Fokus memberi, bonus (kalau) kembali
Public speaker yang baik, akan membawa sesuatu yang membuat orang menanti-nanti kehadiran kita. Apa nih “oleh-oleh” yang bisa dibawa pulang dari tampilnya diri sendiri sebagai public relations? Bisa strategi, pengalaman keberhasilan ataupun kegagalan, ataupun tools. Teori ini ibaratnya, orang bakal senang ketika dapat oleh-oleh kan, nah tinggal bagaimana kita sebagai public relations mengemasnya.
– Ada di Depan, Bukan di Atas
Menjadi pembicara di depan umum, entah mewakili PR agency atau praktisi public relations memposisikan kita ada di depan. Tapi tetap ingat kalau pembicara bukan di atas audiens. Seandainya panggung lebih tinggi pun, posisikan diri setara dengan audiens. Jadi kita tidak terlihat seperti sosok yang jauh dari jangkauan. Tapi bisa saling memberi dan terkesan friendly. Jangan lupa juga untuk implementasikan cara berdiri, duduk, dan gestur-gestur hangat lainnya.
– Pilihan Diksi dan Bangun Interaksi
Berjejaring adalah salah satu kemampuan yang wajib dimiliki public relations. Bagaimana tidak, namanya saja sudah “relations” yang artinya harus memiliki kemampuan untuk blend-in dengan berbagai pihak. Sama dengan ketika menjadi public speaker, berbagai momennya akan cenderung lebih menempel di ingatan ketika kita bisa memilih bahasa yang pas, dan interaksinya asyik. Jangan lupa untuk menyelipkan senyum dan membaca suasana serta mencairkannya.
– Berteman dengan Pena dan Kaca, atau Kamera
Memang masalah untuk tampil di depan umum ini tidak berlaku untuk semua orang. Tapi ada cara untuk memaksimalkannya. Termasuk untuk para public relations yang masih kurang percaya diri ketika harus melakukan public speaking. Elemennya ada tiga, menulislah dengan pena, bawakan di depan kaca atau kamera.
Jadi, bakal bicara di mana nih dalam waktu dekat?
(*)
