Adakah Kata Terlambat Masuk ke Dunia Public Relations di Indonesia

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)

Seseorang bertanya di forum internet, apakah terlambat masuk ke dunia public relations di penghujung usia 20-an? Masihkah relevan untuk berada di PR agency Jakarta di tengah persaingan ketat mencari pekerjaan di Indonesia dengan batasan usia yang begitu sengit? Simak kisah D, dan perjalanan kariernya di industri public relations dan selingkar wilayahnya


D memulai karier profesional (dalam artian mulai dibayar) di usia 20 tahun. Waktu itu statusnya masih mahasiswa semester empat. D sadar performanya di kampus tidak begitu istimewa.  Maka mencari pemasukan ditempuhnya meskipun belum terpikir akan menjadi isi CV ketika baru lulus beberapa tahun setelahnya. Pekerjaan pertama D adalah operator game center di Semarang (tahun 2004 di Semarang masih era game LAN seperti Counter Strike dan Need For Speed). Upah D Rp150.000 per bulan dengan frekuensi kerja tiga kali seminggu. Tapi di luar jam kerja D juga sering sekadar nongkrong di sana bahkan tidak jarang sampai menginap. 


Meskipun secara upah tidak cukup untuk membiayai hidup bulanan D pada masanya, tapi kesempatan kerja ini mengajarkan banyak hal termasuk jadi gerbang pengantar ke dunia PR agency Jakarta, selain mengakomodasi rasa penasaran dan kegemarannya terhadap video game dan PC.

Baru awal bekerja, handphone D yang waktu itu layarnya sudah berwarna, Nokia 3530-nya hilang di tempatnya bekerja. Kemungkinan besar diambil oleh “pelanggan” yang paling sering main berjam-jam di sana. Tapi disinilah D mendapat pelajaran kalau yang hilang pasti akan digantikan dengan sesuatu yang lebih besar. 

Selang beberapa bulan dari kehilangan handphone itu, D mendapat kesempatan untuk membantu rancangan pengelolaan warnet dan game center dari mulai perencanaan layout, pemilihan PC, sampai pembuatan desain promosi. Ternyata pengelola bisnis ini adalah salah satu distributor merek komponen PC terkenal di Jakarta. Ia sering meminta D untuk membuat siaran pers produk-produk jualannya untuk berbagai media di sejumlah kota besar. Dari sinilah D awalnya D berkenalan dengan industri PR agency Jakarta.

Dari video game ke event organizing

Irisan lain dari PR agency adalah menyelenggarakan event. D pun mendapat kesempatan itu dengan menjadi pekerja lepas di salah satu event organizer Semarang. Salah satu project besarnya adalah aktivasi connecting bridge Plaza Simpang 5 – Citraland sedang membutuhkan promosi dengan pameran produk lokal sampai nasional,  dan mulai berkenalan dengan checklist harian pameran, sampai loading in dan loading out tiap kali pergantian periode pameran.

Pekerjaan ini membuat D mendapat kesempatan untuk menghandle beberapa pensi SMA di Semarang. Dari mulai pensi Sultan Agung 1 di tahun 2006, yang mewujudkan mimpi D menjadi seorang liaison officer untuk band atau performer. Band pertama dimana saya menjadi LO-nya adalah Boys Are Toys. Grup rock asal Bandung yang semua personilnya perempuan ini begitu keren pada masanya (bahkan sampai hari ini).

Tapi D bukan sekadar starstruck bertemu dengan artis, di kesempatan yang sama juga jadi perkenalan D dengan salah satu sound engineer terbaik dari Bandung, Adan Gimbal atau dulu sering diplesetkan menjadi pendakwah Aa Gim. Tidak berhenti di situ, D juga berkenalan dengan salah satu manajer band terbaik dari Bandung, Ivan.

Tentunya juga periode ini menjadi momen perkenalan dengan beragam sponsor yang rata-rata adalah klien PR agency Indonesia, dari mulai produk FMCG, operator seluler, sampai tentunya produk tembakau yang sampai hari ini menjadi sponsor terbanyak untuk berbagai event musik. 

Pensi bernama “Sulatoezone” itu juga menghadirkan kontes modifikasi kendaraan bermotor dan graffiti contest. Pada masanya, format seperti ini lebih dari sekadar pencapaian, termasuk di karier D di selingkar wilayah public relations dan PR agency

Event pensi tersebut sukses besar. Mengantarkan D dan tim untuk menghandle pensi SMAN 4 Semarang beberapa bulan setelahnya dengan bintang tamu grup rap rock asal Jakarta, Saint Loco. Berlanjut dengan event-event kampus yang menghadirkan beragam bintang tamu dari lokal sampai nasional. Salah satunya event FISIP Undip dengan bintang tamu Kerispatih.  

Modal (Kalaupun) Terlambat Masuk PR Agency Jakarta

Kembali ke pertanyaan apakah ada kata terlambat untuk memulai karier di ranah public relations? Kalau dari cerita D tadi, ia membangun jejaring karier profesional dalam dua bidang berbeda yang mengantarkannya ke jejaring PR agency Jakarta. Ketertarikannya dengan bidang media membuat D sempat bekerja untuk sebuah stasiun radio swasta, sampai berbagai media nasional.

Kemampuan menulis D juga membuatnya mendapat kesempatan menulis buku pertama, kedua, dan ketiga yang menjadi modal tambahan portfolio-nya menapaki karier di industri media dan PR agency Indonesia.

Di tengah persaingan yang begitu ketat, ketimbang sibuk memusingkan usia yang memang angkanya akan terus bertambah, alangkah lebih baiknya untuk bisa menjadi berbeda.  Karena di lautan PR agency Jakarta Indonesia yang penuh ikan, jenis terbanyak hanya akan mendapat harga rata-rata pasaran. (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts