(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Dalam beberapa situasi, berjejaring alias networking dengan metode tatap muka langsung alias luring adalah metode terbaik. Untuk PR agency Jakarta, di tengah perkembangan teknologi yang nyaris tak pernah tidur, pertemuan tatap muka juga menjadi sarana untuk mengekspresikan diri tentang banyak hal.
Sebagai public relations entah berada di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia, networking identik dengan aktivitas mencari koneksi, leads, bertemu klien lama, pekerja media, KOL, atau lainnya. Bentuknya pun beragam, dari mulai sekadar ngopi, mengunjungi event berbagai skala, atau jadi bagian dari kegiatan-kegiatan warga lokal di sekitar tempat tinggal.
Nah, apa yang PR agency Jakarta bisa optimalkan ketika berjejaring atau networking? Ada 2 metode, difficulty “Hard” dan difficulty “Medium”. Eh gimana tuh? Di sini para public relations akan menemukan jawaban, dan menentukan pilihan.
Tidak Ada Mode Easy untuk PR Agency Jakarta
Kepadatan jalanan, meeting yang back to back, dan segudang aktivitas lainnya di hiruk pikuk Jakarta membuat kesempatan bagi public relations untuk networking menjadi hal yang harus bisa optimal di waktu yang terbatas. Karenanya tidak ada cara mudah untuk menjalani networking.
Mode “sulit”-nya, adalah dengan “polosan” ke berbagai acara networking. Para public relations “hanya” perlu datang dengan kemampuan (dan kemauan) membuka pembicaraan, bertukar akun media sosial, bersosialisasi tipis-tipis, lalu selesai. Berikutnya adalah mengucapkan terima kasih ke semua yang sudah berjejaring di hari itu, sembari menawarkan kemungkinan bekerja sama di kemudian hari.
Sementara untuk mode difficulty “Medium” adalah membawa sesuatu saat berjejaring. Inilah kesempatan yang potensial untuk PR agency Jakarta. Apa yang perlu jadi bawaan para public relations? Bisa tawaran jasa, project, ide, waktu, produk, bahkan sampai uang. Metode kedua ini ibarat lagu anak-anak, “Hanya memberi, tak harap kembali,”. Walaupun siapa yang tidak berharap kalau apa yang sudah menjadi rancangan bisa berbuah hal yang selama ini kita upayakan.
Jadi Memilih Jalur yang Mana?
Strategi networking adalah preferensi. Kedua mode di atas memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Mode “Hard” membuat para public relations tidak perlu repot dengan perlu menyiapkan apa sebelum masuk ke “arena” networking. Konsekuensinya, di antara banyaknya orang yang ada di sesi networking, kita akan dengan mudah terlupakan.
Sementara cara networking dengan mode difficulty “Medium” membuat PR agency Jakarta harus menyiapkan banyak hal sebelum berangkat networking. Tidak jarang persiapannya memakan waktu hitungan hari sampai minggu. Cara lain yang bisa jadi pertimbangan adalah dengan menginventarisir apa saja layanan atau produk andalan yang bisa dibawa untuk jadi “hantaran”.
Cara kedua ini memungkinkan para public relations tampil beda dengan pihak-pihak lain yang juga hadir ke sebuah sesi networking. Saat setelahnya mengirimkan follow up email atau pesan singkat di jejaring profesional atau casual, sudah ada sesuatu yang mungkin saja akan menarik untuk siapa pun di seberang sana. Bisa jadi mereka selama ini mencari jasa atau produk dari PR agency Jakarta, tapi masih kesulitan untuk menemukan solusi.
Nah, terdekat kapan nih akan networking lagi?(*)
