(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Membaca judul ini mungkin sebagian PR agency Indonesia terutama di Jakarta akan bertanya-tanya. Lho kok bukannya harusnya jangan emosian yah? Tunggu dulu, saat ada kemacetan di Jakarta dan solusinya adalah rekayasa jalur, bisa jadi emosi yang keluar adalah marah dan kecewa. Tapi di sisi lain coba berhenti sejenak dan pikirkan aktivasi terakhir sebagai public relations yang paling berkesan. Metriksnya feedback media, klien, dan KOL. Itu juga ada emosinya lho.
Nah kan, semua PR agency, mau itu di Jakarta, ataupun daerah-daerah lain di Indonesia, semua punya emosinya masing-masing. Tapi pertanyaan berikutnya, seberapa banyak emosi yang bisa tertangkap?
Public Relations Mesti Paham Ragam Emosi yang Ada
Setiap campaign itu selalu ada emosinya lho. Seperti halnya sebuah karya ataupun produk, emosi punya peran penting di dalamnya. Produk Tropicana Slim tidak akan sama sebelum ada series Sore, yang belakangan jadi film layar lebar.
PR agency Indonesia terutama di Jakarta yang ideal akan tahu kemana emosi dari sebuah campaign akan membawa calon konsumennya. Mulai dari sedih, senang, marah, kecewa, bangga, terinspirasi, atau semacamnya.
Ketidakjelasan dalam proses membangun emosi akan membuat campaign jadi mengambang. Padahal harapannya sebagai public relations adalah klien yang kembali datang dengan senyum mengembang.
Pentingnya Emosi untuk PR Agency Indonesia Jakarta
Kita belum lama lupa dari tren “kopi senja”, mungkin di antara kalian yang pelaku public relations ada yang pernah membuat campaign yang berhubungan dengan ini, atau malah bekerja sama dengan KOL yang konten-kontennya bertema kopi senja, seperti pemilik podcast Rintik Sedu? Emosional sekali tone-nya.
Wajar sekali, sebagai manusia, dan sudah pasti klien PR agency juga manusia bukan? Lalu sebagai barometer tren, tidak mengherankan kalau fenomena seperti ini datangnya dari Jakarta lalu kota-kota lain di Indonesia akan mengikuti.
Mengapa bisa seperti ini? Jawabannya adalah emosi mampu membangkitkan rasa, dari inspirasi sampai refleksi, dan secara tidak langsung sudah membuat campaign lewat beragam formatnya sudah selangkah lebih dekat dengan konsumennya.
Brand besar Juga Mengimplementasikan Emosi
Dari mulai action cam Go-Pro, sampai brand fesyen Patagonia yang terkenal di kultur Jakarta Selatan, ternyata mengimplementasikan emosi dalam campaign-campaign mereka lho. Kok bisa? Buat para public relations yang mencari referensi maka mengunjungi channel YouTube official sejumlah brand adalah hal yang baiknya kita lakukan secara berkala.
Ambil contoh GoPro dengan movement backflip dari ketinggian 72 kaki yang sukses menggetarkan penontonnya. Sampai Patagonia dengan campaign menginspirasi kehidupan orang di kawasan lautan. Coba untuk PR agency Indonesia terutama di Jakarta bisa melakukan hal serupa untuk brand lokal, barangkali ada yang sedang atau malah sudah membuat campaign dengan elemen emosi.
Nah, terus bagaimana supaya public relations bisa mengimplementasikan emosi dengan baik. Ketika melempar ide untuk menjadi materi pitch campaign, tanya lagi “Kira-kira reaksi klien, media, atau KOL bakal bagaimana yah?”.
Jangan lupa juga untuk “jalan-jalan” untuk mendapatkan emosi terbaik yang pernah ada sebelumnya. Refleksikan juga apa pendekatan apa yang sering kita pakai sebagai public relations dan kita bagikan ke lingkaran terdekat, biasa saja, sampai lumayan jauh. Tuliskan pengalamannya karena ada potensi emosi yang berbeda di dalamnya. (*)
