Sebagai public relations salah satu aktivitas yang jadi bagian jadi keseharian bersama PR agency Jakarta adalah membuat konten. Produk turunan dari konten ini adalah press release dan bentuk akomodasi kebutuhan klien. Nah tapi terkadang ada beberapa hal yang perlu public relations perhatikan.
Dalam membuat konten, public relations memerlukan pemetaan supaya memudahkan pengambilan keputusan. Pemetaan ini serupa kuadran pembuatan konten. Mulai dari konten “premium” yang proses pembuatannya paling high effort. Lalu di kuadran kedua ada “fast moving content” yang distribusinya paling cepat.
Sebenarnya dengan menjalankan dua kuadran ini, konten dari public relations cenderung sudah lebih ideal ketimbang tanpa pemetaan sama sekali. Apa saja sih bentuk konten dari dua kuadran ini?
High Effort versus Fast Moving Content
Coba berapa kali ada pikiran-pikiran yang melintas di lingkup PR agency Jakarta, “Apakah worth untuk kita menaruh effort membuat konten seperti ini?” Justru di sinilah peran kuadran tadi. Risetnya mendalam, kalau output-nya multimedia berarti akan melibatkan gear produksi yang setidaknya levelnya semi-pro.
Konten dengan jenis high effort bukan hanya memerlukan ekstra di pre production, tapi juga post production. Tentu saja akan membuat makan waktu, tapi di sisi lain bentuk-bentuk konten seperti ini akan membuat para public relations bisa mendapat apresiasi lebih dari audiens, termasuk di dalamnya calon klien potensial.
Sementara jenis konten kuadran kedua yaitu fast moving content kebalikannya dari high effort content. Dari proses pre-production jauh lebih sederhana, tidak memerlukan alat atau gear produksi yang rumit, post productionnya sederhana prosesnya dan tentunya cepat untuk dipublikasikan.
Personalized & Niche Content
Untuk PR agency yang berada di Jakarta atau daerah-daerah lain di Indonesia, audiensnya memiliki karakter yang berbeda-beda. Di sinilah peran konten dalam kuadran ketiga dan keempat. Personalized content membuat orang yang mengonsumsinya merasa memiliki kedekatan. Sebagian public relations melihat PR agency Jakarta sebagai kiblat arah personalisasi konten. Padahal tidak mesti seperti ini, justru potensi tiap-tiap daerah bisa lebih dieksplor dan menjadi hyperlocal PR agency dengan pendekatan seperti ini.
Nah lalu ada niche content. Format perpanjangan dari personalized content ini adalah bagaimana membentuk ciri khas dari konten-konten para public relations. Misalnya, ada konten yang spesifik untuk perempuan, laki-laki dewasa, anak-anak, dan banyak lagi lainnya. Inti dari konten jenis ini adalah mempersempit cakupan, tapi memperdalam bahasan.
Bagaimana kalau ternyata ada konten yang tidak masuk dalam empat kuadran ini? Di sinilah masalah utamanya. Karena terkadang para public relations tenggelam dengan berbagai urusan di PR agency, sampai lupa ada di kuadran mana konten yang mereka buat. Lain halnya kalau tujuan menghadirkan kontennya adalah sempalan atau pelengkap dari beragam konten yang ada. Tapi tentu saja, yang namanya sempalan jumlahnya tidak akan mendominasi komposisi konten.
Coba refleksikan lagi konten-konten yang sejauh ini sudah pernah dirilis. Kalau masih bingung kuadran mana yang perlu jadi prioritas PR agency Jakarta, bedah lagi perlahan mana yang paling potensial dari kumpulan konten yang ada. Bisa mengacu pada analytics, atau lakukan A/B testing dari sirkel terdekat.
Jangan lupa juga untuk membuat komposisi yang seimbang antara konten dalam empat kuadran tadi, agar tidak timpang. Jadi, sudah siap memulai lagi dari kuadran yang mana? (*)
