(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia)
Sebagai bagian dari pekerja industri digital, public relations jelas sangat akrab dengan yang namanya akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Tidak hanya untuk PR agency yang berada di kota besar seperti Jakarta, tapi juga “racun AI” sudah nyaris menyebar ke seluruh Indonesia yang sudah terpapar internet.
Banyak kekhawatiran kalau AI akan menggerus banyak pekerja, termasuk public relations. Tapi dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi partner terbaik untuk PR agency Jakarta.
Bagaimana caranya? Sebagai public relations, kita harus memposisikan AI sebagai partner bukan sekadar giver. Secara AI adalah “sosok” yang akan menjawab pertanyaan yang kita tanya, nyaris tanpa jeda waktu.
Dengan pendekatan yang lebih tepat, AI bisa menjadi partner untuk para public relations dan bisa menjadi “konsultan” bayangan untuk PR agency Jakarta. Misalnya dengan menjadikan AI sebagai personal assistant, misalnya untuk mengerjakan aktivitas administratif atau pre-dan post production yang berulang.
Pendekatan lain yang juga menarik adalah dengan menjadikan AI sebagai elemen penyerta dalam proses pengambilan keputusan. Misalnya saat ada beberapa opsi sebelum menjadi penawaran ke klien, AI bisa menjadi sarana untuk membantu proses pengambilan keputusan.
Mengubah Layanan Bantuan Menjadi Rekanan
Setidaknya ada 4 proses kerja PR agency Jakarta yang berpotensi terbantu berkat AI. Kita mulai dari yang pertama yaitu proses penulisan. Sekilas terdengar sederhana, tapi bahasa tulis adalah salah satu metode komunikasi yang penyelarasannya kadang makan waktu. Public relations memang baiknya terus menulis, tapi soal kesesuaian adalah hal lain yang implementasinya di sejumlah PR agency akan melibatkan editor atau penyelaras bahasa.
Untuk perusahaan skala besar di kota seperti Jakarta, mungkin hal ini bisa dilakukan. Tapi bagaimana dengan perusahaan yang baru bertumbuh di berbagai penjuru Indonesia? Dengan bantuan AI, pesan dan email untuk klien, percakapan lintas bahasa dan kesesuaian struktur akan lebih terbantu.
Lanjut ke urusan kedua, PR agency baik yang berada di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia akan mendapati kondisi-kondisi yang menuntut pengambilan keputusan secara cepat. Tentunya tetap manusia akan memegang kendali utama dan menjadi faktor penentu. Tapi saat sedang sendirian dan butuh partner diskusi, ini saatya menjadikan AI partner diskusi.
Namanya PR agency Jakarta pasti tidak asing dengan persiapan strategi. Nah terkadang eksekusinya berbuah sejumlah strategi yang membutuhkan penilaian. Sebelum akhirnya masuk menjadi penawaran berujung penilaian klien, sekarang ada AI yang bisa jadi gerbang “transit” validasi strategi. Setidaknya para public relations punya tenaga tambahan untuk menambah dan mengurangi strategi yang akan diajukan atau bahkan diimplementasikan dalam sebuah campaign atau crisis.
Terakhir, saat ada di persimpangan pro dan kontra, salah satu tantangan untuk para public relations adalah mengambil keputusan di tengah sulitnya melihat detail-detail tertentu. Nah di titik ini layanan PR agency Jakarta akan semakin solid dengan bantuan AI. Pertimbangan-pertimbangan akan “belok kiri” atau “belok kanan” bisa dengan lebih cepat untuk diambil.
Jadi, sudah menentukan AI mana yang bakal jadi rekanan? (*)
