Cara Biar PR Agency Tetap Lancar Berjualan di Tengah Serbuan AI

Serbuan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sejak penghujung tahun 2024 dan makin gencar di 2025, tentu membuat banyak vertikal industri perlu berbenah. Menyusun ulang strategi, demi bisa tetap bertahan di tengah pusaran.

AI membuat segala proses menjadi lebih cepat, termasuk di ranah public relation. Tapi artinya tantangan baru ketika kita bicara pemasaran barang dan jasa. Bagaimanapun akan banyak pertimbangan dari klien, ketika memilih jasa PR agency, karena satu dan bisa jadi banyak hal, mulai bisa diselesaikan oleh AI.

Banyak sekali prediksi yang mengatakan kalau AI akan menggantikan banyak pekerjaan. Tapi kondisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang begitu baru di ranah teknologi. Para public relation tentu masih ingat ketika booming era startup di tahun  2015. Disrupsi layanan seperti GO-JEK, Tokopedia, Traveloka, dan banyak lagi lainnya membuat banyak pelaku bisnis konvensional, sampai tukang ojek pangkalan merasa terhempas dan akhirnya mati.

Bukan Perkara Seberapa Sulit Prosesnya

Penulis dan entrepreneur Seth Godin pernah bicara dalam salah satu podcast bersama Tim Ferris berjudul “Playing the Right Game and Strategy as a Superpower” bila teori dasar orang mau membeli sebuah layanan atau barang dagangan adalah karena mereka memiliki ketertarikan untuk membelinya.

“Every exchange requires a voluntary act. People buy something from us not because we work so hard for it, but because they want to.”

Ini sebuah catatan penting bagi para public relation di era AI yang menyajikan produk instan. Masalah kualitas masih bisa diperdebatkan, tapi ketika metode konvensional menjadi nilai penjualan, di sini perlu pandangan bahwa konsumen belum tentu peduli dengan apa yang terjadi di “dapur”.

Contoh, keputusan orang membeli kopi pada akhirnya berujung pada orang memang butuh asupan kopi. Hal yang sangat umum sekali di kantor-kantor public relation ya. Memang ada beberapa persen konsumen yang cenderung ingin kopi, dan FOMO. Tapi ketika sampai pada keputusan membeli kopi, maka konsumen cenderung mengabaikan proses pemilihan biji kopi, sampai seberapa banyak keringat barista yang menetes.

Tapi di sisi lain juga ada peran kesosokan dalam kesuksesan penjualan. Di era AI saat ini, KOL masih berwujud human, meskipun sudah mulai ada karakter-karakter virtual yang mulai mewarnai jagat pemasaran. Tapi tetap, porsi orang beneran masih mendominasi.

Dalam kasus ini, ada unsur status dari proses transaksi. Inilah yang orang kenal dengan istilah mutual benefits. Masing-masing pihak mendapat keuntungan. Tapi yang jelas, pembeli tetap mau membeli. Masalah kesosokan di belakangnya itu sudah menjadi strategi penjualan.

Public Relation Harusnya Bagaimana?

Bergerak di ranah komunikasi, tetap saja PR agency harus berjualan. Di dalamnya jelas melibatkan para public relation. Memang dalam waktu dekat rasanya kita tidak akan melihat ada humanoid pitch ke klien. Jadi memang bukan hal ini yang saat ini perlu jadi perhatian public relation menyikapi serbuan AI.

Tapi masih bagaimana strategi menjualnya supaya klien tidak menjawab “Ah, sudah tidak usah repot-repot, kami sudah langganan AI X,”. Kalau begini jelas kita akan mati kutu. Coba cari cara untuk memberikan respons pada klien dan tentunya pada saat masih calon agar mereka merasa layanan public relation yang kita tawarkan memang sarat dengan sentuhan manusia. Sampai akhirnya mereka mengiyakan bila bujet yang dikeluarkan memang sepadan dengan potensi hasil yang akan klien dapatkan.  (*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts