Era AI dan Strategi Konten Ideafest untuk PR Agency di Indonesia

Di ranah industri, tentu tidak ada salahnya public relations belajar dari existing brand yang sudah memegang jam terbang dan terbukti memiliki pengaruh. Di ranah event tanah air ada Ideafest yang berlangsung setiap tahun sejak 2011 lalu.

Bila melihat definisi Ideafest, “The biggest creative festival in the nation that continuously empowers the creative communities and is set to become the nation’s biggest collaboration festival.” Jelas bila Ideafest adalah ajang “lebaran kreatif” tanah air yang mewadahi simpul-simpul komunitas dalam balutan kolaborasi.

Bicara soal kolaborasi, Ideafest punya strategi konten dan pemasaran yang potensial untuk PR agency Jakarta. Tenang untuk para public relations di seluruh Indonesia, meskipun Ideafest adanya di Jakarta, strateginya relevan dimanapun industrinya beroperasi. Tak terkecuali juga di era artificial intelligence atau akal imitasi (AI).

Jurus Magis #BehindTheIdeation


Salah satu jenis konten di media sosial Ideafest adalah Behind The Ideation. Kenapa konten ini masih tetap relevan di era automasi dan berguna untuk PR agency Jakarta adalah karena tujuannya menggandeng komunitas dan pergerakan dan “membongkar” apa inspirasi di belakang ide-ide produk atau layanan kerennya.

Komunitas jelas bukan suatu komoditas yang saat ini bisa tergantikan oleh AI. Meskipun saat ini public relations bisa “berdiskusi” dengan akal imitasi, tapi mengumpulkan orang dengan ketertarikan dan tujuan yang sama masih harus dilakukan oleh manusia.

Dengan pendekatan kolaboratif di segmen #BehindTheIdeation, Ideafest juga kerap melakukan collab post. Tentunya ini menambah jangkauan konten dan berpotensi mendatangkan leads baru ke depannya.

Di sisi yang lain, audiens akan lebih mengenal ada komunitas yang bisa jadi sekarang belum mereka butuhkan, tapi besok justru mereka cari. Dari kacamata yang lain, ada kemungkinan audiens bisa bertemu komunitas yang pas dan memang selama ini belum bertemu. Lagi-lagi, AI masih belum bisa mengakomodasi hal ini.

“Contekan” untuk PR Agency di Indonesia


Di era AI, mudah saja bagi para public relations untuk menjadi bahan amati, tiru, dan modifikasi. Tapi tetap saja ide tanpa eksekusi manusia berpotensi kehilangan “ruh” alias soulless. Padahal di PR agency Jakarta saja ada beberapa klien yang kekuatan aktivasinya begitu mengandalkan komunitas.

Serupa seperti restoran open kitchen, audiens cenderung puas melihat cara masaknya. Sama juga dengan behind the scene sebuah event atau aktivasi. Ketertarikan audiens jauh lebih tinggi. Artinya ini menjadi indeks penting untuk para public relations dalam persebaran informasi.

Semangat kolaborasi yang belum tergantikan oleh AI dalam bentuk humanoid sekalipun. Kolaborasi melibatkan emosi, meskipun dengan implementasi teknologi memungkinkan jangkauan distribusi konten bisa menjadi lebih luas. (*)




Share the Post:
Leave a message

Related Posts