Strategi Kolaborasi PR Agency di Indonesia

Banyak orang menyebut era masa kini sebagai interkoneksi. Tak terkecuali dunia public relations di berbagai penjuru Indonesia, termasuk juga PR agency di Indonesia. Bagaimana tidak, namanya bisnis pasti harus berjualan, ada traksi dan transaksi. Karenanya enggak heran kalau sering orang bilang kolaborasi adalah kunci.

Namanya kolaborasi, jelas bukan buah kerja seorang diri. Minimal tim internal, dan dalam cakupan tertentu akan melibatkan pihak eksternal atau untuk skala yang lebih besar bisa jadi kolaborasi lintas entitas atau institusi.

Kesimpulannya, kolaborasi adalah kerja bersama alias bareng-bareng. Di sinilah kata kunci yang bisa menjadi pegangan public relations. Bersama artinya melibatkan banyak kepala, siap-siap untuk pusing, tapi ada yang enggak kalah bikin pening, bagaimana kolaborasi ini bisa berlangsung.

Kalau public relations berada di PR agency Jakarta yang jam terbangnya sudah tinggi, tentu hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Tapi bagaimana untuk para pendatang baru yang sedang menjejak industri ini?

Formula Jitu untuk yang Baru Mulai Berkolaborasi

Kenapa Harus Ada Kita di Dalamnya
Ada jutaan orang di dunia, begitu pun public relations. Lalu kenapa kita yang harus menjadi pilihan? Pastinya kita memiliki ekspektasi. Tapi buat mereka apa nih? Cara terbaiknya adalah merefleksikan kemampuan. Corat-coret di kertas, buat gambar orang-orang berwarna hitam, dan diri kita adalah orang berwarna biru.

Di sinilah kita perlu membuat breakdown warna biru tadi. Apakah kita punya waktu, ketelatenan, kemampuan berbahasa, kreativitas yang out of the box, atau peluang-peluang yang bisa mendatangkan uang?

Pastikan pihak yang akan diajak kolaborasi menangkap sinyal, atau bahkan lebih baik lagi bila bisa memahami hal ini. Tentunya jangan hanya berhenti di pencitraan, tapi juga eksekusi alias pelaksanaan.

Datang untuk Memudahkan
Ketika era booming startup di 2015, prinsip yang mereka usung adalah membawa kemudahan untuk calon konsumen. Produk-produk seperti GO-JEK, Tokopedia, Traveloka, dan banyak lagi lainnya adalah para pendatang baru yang menjanjikan kemudahan.

Nah, solusi yang sama juga biasanya PR agency Jakarta bawa saat bertemu dengan calon klien baru. Solusi untuk memudahkan dari kepusingan calon klien dengan segudang permasalahan.

Siapa pun pasti menyukai solusi, bukan beban tambahan yang harus mereka “gendong” karena menggunakan layanan kita. Akan lebih baik lagi kalau kita bisa menerka masalah calon kolaborator dan mengusung solusinya, sebelum mereka panjang lebar menceritakan masalahnya.

  • Mental Memberi (Syukur) Kalau Kembali

Pepatah bilang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Perlu menjadi catatan dalam beberapa kondisi kolaborasi posisi kita sebagai public relations adalah pendatang baru.

Jangan dulu pikirkan apa yang bisa kita minta, tapi apa yang bisa kita beri. Misalnya, saat terjadi kesepakatan kolaborasi untuk mengerjakan task A, berikan A++ sehingga kolaborator merasa “Wow”.

Beri kesempatan calon kolaborator untuk mengeksplor layanan kita. Baru setelah kita punya daya tawar, bisa mencoba untuk meminta.

  • Besok Gagal Kemarin Sudah Coba Lagi

Lho gagalnya besok kok kemarin sudah nyoba? Justru ini maksudnya. Saat masih memulai, akan ada saja pihak-pihak yang meragukan esensi kolaborasi, memandang sebelah mata, atau mentah-mentah menolak. Perlu diingat PR agency Jakarta juga memulai sesuatu dari baru. Saat belum berjodoh, bergerak lagi seolah-olah kita sudah tahu memang belum berjodoh dan terus cari peluang. Bukankah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda?

(*)

Share the Post:
Leave a message

Related Posts