All Blog

Cara Jitu Rebranding: Menghidupkan Kembali Merek yang Mati Suri

Pernahkah Anda melihat merek yang tadinya “mati suri” atau nyaris terlupakan, tapi tiba-tiba bangkit dan kembali bersinar? Merek yang awalnya dianggap kuno, ketinggalan zaman, atau bahkan dicap buruk, kini kembali dicintai banyak orang. Fenomena ini, yang kita sebut rebranding, jauh lebih dari sekadar mengganti logo atau warna. Rebranding adalah sebuah proses menyeluruh yang bisa menghidupkan kembali nyawa sebuah merek, menjadikannya relevan lagi di mata konsumen. Kenapa Sebuah Merek Perlu Rebranding? Bayangkan sebuah band legendaris yang lama tidak mengeluarkan album. Nama mereka tetap dikenal, tapi popularitasnya meredup. Sama halnya dengan merek. Ada banyak alasan sebuah merek perlu rebranding, seperti: Namun, melakukan rebranding itu seperti operasi besar. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, hasilnya bisa fatal. Tahap 1: Diagnosis Masalah Utama Sebelum Anda mengganti apa pun, Anda harus tahu apa masalah utamanya. Ini adalah tahap paling krusial. Seperti dokter yang mendiagnosis penyakit, Anda harus mencari tahu akar masalah merek Anda. Lakukan riset pasar, analisis kompetitor, dan dengarkan masukan dari konsumen. Apa yang membuat mereka meninggalkan merek Anda? Apa yang mereka suka dari kompetitor? Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Kodak. Siapa yang tidak kenal Kodak, raksasa industri film dan fotografi kala itu? Namun, mereka gagal beradaptasi dengan era digital. Meskipun insinyur Kodak menciptakan kamera digital pertama pada tahun 1975, manajemen mereka menolak untuk mengembangkannya karena takut akan membunuh bisnis film mereka yang sangat menguntungkan. Akibatnya, mereka terlambat masuk ke pasar digital dan akhirnya mengajukan perlindungan kebangkrutan pada tahun 2012. Kodak tidak tutup, mereka berhasil bangkit dengan fokus pada bisnis B2B (bisnis ke bisnis) seperti percetakan. Namun, pelajaran dari kasus ini sangat jelas: Rebranding harus dimulai dari pemahaman mendalam akan perubahan pasar. Tahap 2: Merumuskan Identitas Merek Baru Setelah Anda tahu masalahnya, saatnya merancang “nyawa” baru untuk merek Anda. Identitas baru ini bukan hanya soal logo, tapi tentang nilai-nilai, visi, misi, dan pesan yang

Read More →

Menciptakan Sebuah Bisnis Tanpa Susah Payah Menjual Tapi Laris di Pasar

Kita semua tahu rasanya. Ponsel berdering, notifikasi pop-up muncul, e-mail menumpuk. Semuanya datang dari satu tujuan: Menjual. Perusahaan-perusahaan berlomba-lomba menarik perhatian kita, sering kali dengan cara yang terasa mengganggu. Namun, coba bayangkan sejenak: Bagaimana jika ada cara untuk membangun bisnis yang tidak perlu melakukan semua itu? Bagaimana jika produk Anda laku keras di pasar karena orang-orang mencarinya, bukan karena Anda menjualnya? Ini bukan khayalan. Ini adalah esensi dari pemasaran modern. Paradigma bisnis bergeser dari “Bagaimana kita menemukan pelanggan untuk produk kita?” menjadi “Bagaimana kita menciptakan produk yang dicari-cari oleh pelanggan kita?”. Kunci dari perubahan ini bukan lagi terletak pada teknik jualan yang agresif, melainkan pada pembangunan nilai, kepercayaan, dan komunitas. Mari kita bedah empat pilar utama yang bisa membuat bisnis Anda booming tanpa perlu “memaksa” orang untuk membeli. Pilar 1: Pahami Masalah Mereka, Bukan Sekadar Jual Solusi Anda Mungkin terdengar klise, tapi ini adalah fondasi paling penting. Kebanyakan bisnis terjebak dalam jebakan product-centric. Mereka fokus pada fitur produknya yang canggih, desainnya yang keren, atau harganya yang paling murah. Padahal, calon pelanggan Anda tidak peduli seberapa hebat produk Anda. Yang mereka pedulikan adalah, “Apakah ini bisa menyelesaikan masalah saya?” Pakar pemasaran dunia, Seth Godin, dengan filosofi “Permission marketing“-nya, mengajarkan kita sebuah konsep radikal: Berhenti mengganggu orang dengan iklan yang tidak relevan. Godin berpendapat, daripada memaksa masuk ke dalam kehidupan orang, mintalah izin mereka untuk berkomunikasi. Caranya? Berikan nilai terlebih dahulu. Mari kita lihat HubSpot sebagai contoh nyata. HubSpot adalah perusahaan penyedia software untuk pemasaran dan penjualan. Mereka tidak memulai dengan menjual software mahal. Sebaliknya, mereka membangun sebuah perpustakaan konten yang masif, mulai dari blog, e-book, hingga webinar gratis yang berisi panduan lengkap tentang inbound marketing, SEO, dan tips bisnis. Mereka menjawab semua pertanyaan audiens mereka. Hasilnya? Jutaan orang di seluruh dunia membaca konten mereka setiap bulan. Ketika akhirnya mereka merasa butuh

Read More →

Serunya Jadi Detektif  untuk Riset Pasar yang Efektif

Siapa bilang riset pasar itu ribet dan bikin pusing? Sebenarnya, riset itu seru, kayak jadi detektif yang lagi pecahin misteri. Kalau mau bisnis kita sukses, kita harus tahu apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan oleh pelanggan. Ini bukan cuma soal ngumpulin data, tapi juga “mengintip” isi hati mereka. Yuk, kita bahas cara bikin riset permintaan pasar yang benar-benar efektif, lengkap dengan contoh-contoh keren dari merek-merek raksasa dunia dan tips dari master marketing. 1.    Tentukan Misimu, Detektif! Langkah pertama yang paling penting, kamu harus tahu persis apa yang sedang kamu cari. Sama kayak detektif, kamu nggak bisa asal nyelidikin tanpa ada tujuan. Tanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini: Contoh: Netflix Dulu, Netflix cuma nyewain DVD. Tapi mereka sadar, masa depan itu di internet. Misi riset mereka adalah cari tahu: “Apa orang mau nonton film berjam-jam tanpa henti?” dan “Apakah mereka mau bayar langganan bulanan buat nonton film sepuasnya?”. Hasilnya? Mereka bisa bikin model bisnis yang bikin kita semua ketagihan nonton maraton! 2.    Kumpulkan Bukti-Bukti, yang Jelas dan yang Tersirat Riset yang top itu gabungan dari dua hal: data yang terukur (kuantitatif) dan cerita di baliknya (kualitatif). A.    Bukti Kuantitatif (Main Angka) Ini soal data yang bisa dihitung. Semakin banyak, semakin bagus. Survei dan Polling: Cara paling gampang buat nanya ribuan orang sekaligus. Kamu bisa pakai Google Forms atau SurveyMonkey. Intip Data Website: Pakai Google Analytics buat lihat “jejak digital” pengunjung website kamu. Halaman mana yang paling sering dikunjungi? Berapa lama mereka betah di sana? “Nyontek” Laporan Lain: Manfaatkan laporan-laporan dari lembaga riset atau pemerintah. Mereka udah ngumpulin banyak data pasar yang bisa dipakai. Contoh: Starbucks Starbucks itu jagonya main data. Mereka bisa tahu kopi apa yang paling laku di setiap lokasi, di jam-jam tertentu. Data ini yang bikin mereka bisa nentuin di mana buka toko baru, atau kapan harus nyetok lebih banyak es

Read More →

Apakah Public Relations Harus Jago?

Blog kali ini mengangkat cerita perjalanan karier seorang pekerja media yang aktivitasnya banyak beririsan dengan public relations, PR agency, belasan tahun hidup di Jakarta, setelah sebelumnya di beberapa kota lain di Indonesia. Tahun 2025 menandai perjalanan delapan belas tahun karier profesional orang berinisial “D”. Menurutnya, jumlah tahun kariernya belum sepanjang itu, tapi juga rasanya tidak sependek itu. Ada perspektif darinya  tentang “jago”, satu kata yang mungkin menurut sebagian orang begitu penting untuk mendapatkan suatu peran di ranah profesional, termasuk di dalamnya public relations.D memulai karier penulisan profesional di tahun 2007. Di penghujung masa kuliahnya di Semarang sebelum akhirnya harus berpindah ke Jakarta, ketika sebelumnya pekerjaan event organizer dari bagian sebuah PR agency di Semarang sudah habis kontrak dan belum ada order baru, plus kurang beruntungnya D di industri broadcast. Kesempatan yang tadinya sempat tidak D pertimbangkan karena merasa “tidak jago”.Bagaimana tidak, satu-satunya aktivitas penulisan D adalah tugas kuliah. Itupun masih banyak dibantu proses edit dan proofread-nya oleh sahabatnya. Di sisi yang lain, gejolak darah muda D merasa bahwa kegiatan di balik layar monitor bergumul dengan deretan aksara adalah hal yang membosankan dan tidak cool.  Bakat versus Latihan Mundur sejenak ke perjalanan karier D di era sebelum menjadi peramu kata, D mengawali proses masuk ke industri event dengan modal nekat proposal magang kampus. Jurusan kuliah D adalah Sastra Inggris, yang tentunya bukan prioritas bagi perusahaan yang bergerak di ranah event. Mereka mungkin akan lebih memilih mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi atau Desain dengan potensi kompetensi yang lebih potensial. Mungkin lain halnya kalau D memiliki potensi lain seperti olah gambar digital, fotografi, atau public relations. Tapi kemampuan saya untuk hal-hal tersebut pada masa itu juga terbilang minim. Hanya keyakinan dan pengalaman berhasil membuat sebuah event jurusan yang cukup sukses (dan “jualan kecap” ketika user interview) membuat D akhirnya bisa diterima magang di perusahaan

Read More →

Bangun Interaksi untuk Public Relations

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Siapa yang tidak senang kalau campaign yang kita lakukan menjadi perbincangan. Baik itu di media sosial, di sudut-sudut cafe penjuru Jakarta, bahkan sampai jadi bahan pembelajaran banyak PR agency di seluruh Indonesia. Pertanyaannya adalah, sudahkah para pegiat public relations mengonsepkan campaign untuk klien mengonsepkan interaksi dalam setiap perencanaan?Masih kebingungan makna interaksi? Coba cek smartphone atau gawai terdekat kalian. Buka layanan media sosial atau layanan lain yang tidak hanya membuat kita tertegun menatap layar, tapi mendorong penggunanya untuk setidaknya membuat “jari menari” di atas layar.Bentuk interaksi yang juga umum di kalangan netizen seluruh Indonesia, tentu saja komentar dan reaksi di media sosial. Era sebelumnya adalah komentar di portal berita atau ruang-ruang komunitas. Tak sedikit fitur baru dari platform digital yang sebaiknya juga pelaku public relations pahami perkembangan trennya. Seperti fitur Vote, Repost, dan banyak lagi lainnya. Pentingnya Interaksi dalam campaign Seperti halnya jualan, PR agency akan berhadapan dengan manusia alias human. Memang karakter audiens di kota besar seperti Jakarta akan berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Tapi justru disitulah tantangannya untuk menciptakan interaksi yang sesuai dengan karakter audiens di tiap daerah.Kesesuaian ini berpotensi membuat adanya ikatan emosional antara audiens, jurnalis atau pekerja media, KOL dan tentunya para public relations. Jadi kepekaan masing-masing pihak memang datang secara organik. Walaupun di beberapa kondisi, memang tetap perlu adanya ruang-ruang untuk menyuntikkan ads.  Pengonsepan interaksi dari awal adanya sebuah campaign juga akan menjadi ciri tersendiri untuk sebuah PR agency. Karakter ini mungkin akan menjadi selera untuk sebagian orang, tapi mempermudah positioning para public relations yang ada di dalamnya. Apakah image-nya akan lekat dengan kesan edukasi yang serius. Bergaya ngepop, atau bentuk-bentuk lainnya yang memudahkan orang mengenali “Oh, ini campaign dari PR agency A, B, atau C,” pantesan saja bisa gini,”. Tips Membangun Interaksi Setiap

Read More →

Mengapa Public Relations juga Perlu Menulis

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Ketika diminta menulis, sebagian pelaku public relations mungkin akan langsung teringat dengan siaran pers. Sisanya boleh jadi terlintas soal artikel di media. Lalu sebagian lainnya lagi berpikir, “Memang buat apa masih menulis?”. Pertama pekerjaan di PR agency, sudah begitu menumpuk. Belum lagi harus menghadapi lalu lintas dan bisingnya kota besar seperti Jakarta, dan kalaupun akhirnya menulis, pertanyaan berikutnya adalah “seberapa banyak sih orang Indonesia mau membaca?”. Menulis adalah salah satu cara “mengasah pola pikir,”. Untuk yang berada di karier yang kesannya tidak ada hubungannya dengan penulisan sekalipun, menulis tetap akan menajamkan fungsi otak. Dalam eksekusi pekerjaan, akan lebih terstruktur, dan jarang sekali mengalami stuck.Sementara public relations jelas beririsan dengan penulisan. Bagaimana tidak, pekerjaannya beririsan dengan pelaku industri media dan KOL. Belum lagi keseharian PR agency dengan klien. Meskipun output dari pihak-pihak yang diajak kerja sama belum tentu tulisan. Tapi membiasakan menulis akan membuat segala urusan bakal jadi lebih mudah. Membangun Kenyamanan dalam Menulis Ketika sudah lama tidak menulis, baik itu untuk urusan pekerjaan, atau perlu kembali menulis lagi setelah sekian lama, pasti ada kekakuan. Terkadang, hasilnya memang diluar dugaan. Bisa jadi isi pikiran tercurah tanpa rem. Tantangan berikutnya adalah memasukkan sumber atau data pendukung kalau diperlukan. Tapi bagi para public relations, urusan yang kedua ini harusnya sudah lebih sering jadi bagian pekerjaan di PR agency. Jadi yang perlu pembiasaan adalah “merangkainya”.Masalah berikutnya adalah terkadang banyak orang yang baru mau atau kembali menulis, hasil tulisannya bisa jadi kurang sesuai harapan. Hal yang sangat normal sekali. Bukankah seorang public relations juga sering menerima perkataan “idenya jelek, eksekusinya nanti begini saja?” dan semacamnya bukan? Belum lagi PR agency yang kliennya meminta ganti konsep ketika pekerjaan sudah setengah jalan. Perkara tulisan jelek itu “obat”-nya hanya satu, terus menulis.Masih mentok juga untuk menulis lagi?

Read More →

Meredefinisikan Cara Ngobrol Ala Consultant di PR Agency

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Bagi para public relations, kemampuan komunikasi identik dengan bagaimana cara bicara di depan umum. Mulai dari pitching ke klien, konferensi pers, atau acara-acara lain yang sifatnya formal. Padahal ada satu hal mendasar dari komunikasi yang sering kita lupakan, basa-basi. Walaupun kedengarannya seperti kultur yang Indonesia sekali, dan mungkin PR agency yang berada di kota besar seperti Jakarta sudah mulai enggan mengaplikasikannya, basa-basi punya peran penting dalam ilmu komunikasi. Mengapa basa-basi jadi begitu penting? Salah satu dasar komunikasi adalah bagaimana membangun obrolan. Di ranah public speaking ada istilah ice breaking, yang tujuannya sesuai namanya “meruntuhkan batu” dalam hal ini tentunya orang-orang supaya bisa lebih enak kita ajak bicara. Hal ini di ranah public relations juga semacam sebuah skill tidak tertulis saat bertemu dengan klien dan calon klien, jurnalis, KOL, atau pihak-pihak yang nantinya akan bekerja sama dengan PR agency.Nah, biasanya pertemuan awal bahkan pertemuan pertama adalah kunci apakah kita akan mendapat kesempatan berlanjut ke meeting-meeting berikutnya, atau selesai di situ. Nah ada framework yang akan sangat cocok untuk proses ini dan secara keilmuan bernama “Asking better questions”.Tujuannya tentu saja seperti kita bahas sebelumnya, pertanyaan yang baik adalah kunci dari obrolan untuk mencapai tujuan sebagai public relations yang bekerja untuk PR agency, entah itu leads, dan banyak hal-hal lain yang potensial mendatangkan keuntungan. Storytelling dalam bertanya Seorang public relations yang baik cenderung akan memulai percakapan dengan, “Eh, sekarang kayaknya lagi sibuk (aktivitas xxx)” dan bisa kita lanjutkan dengan “wah berarti sering ke (tempat xxx) atau banyak pakai (benda xxx)”. Sementara sebaliknya, kalau pertanyaan ini berhenti di jawaban yang sifatnya “yes or no” alias ya atau tidak. Misalnya, “Sudah makan belum?” atau “Selesai belum pekerjaannya?”.Boleh jadi kita terbawa ritme kota besar seperti Jakarta, atau kota-kota besar lain di Indonesia yang identik dengan

Read More →

Ngasih Dulu Baru Jualan dengan Framework HUMAN

(ditulis untuk materi di advo public relations agency indonesia) Siapa yang masih “alergi” sama kata jualan? Padahal di ranah public relations, jualan juga punya peran penting lho. Kok bisa? Ya itulah memang nyatanya kehidupan ini banyak sekali unsur transaksionalnya termasuk PR agency.Masih bingung juga? Contoh yang paling kelihatan adalah seorang public relations melakukan negosiasi dengan klien ataupun calon klien. Buat PR agency yang basisnya di Jakarta Indonesia, biasanya berangkat dari janjian makan siang atau makan malam sambil networking night.  Sementara di belahan Indonesia yang lain, pastinya juga ada kultur-kultur sejenis yang ujungnya sama, jualan.Dari proses negosiasi itu, proses jualan masih terus berjalan. Waktu berhadapan dengan kondisi bujet ternyata perlu penyesuaian dari klien, ini artinya sebagai praktisi public relations ataupun PR agency yang berdomisili di Jakarta Indonesia, itu juga bentuk jualan. Beneran nih kita lagi jualan? Salah satu buku yang memperluas perspektif jualan adalah To Sell Is Human karya Daniel H.Pink. Salah satu kutipan yang bakal sangat relevan dengan pelaku industri komunikasi termasuk PR agency yang pastinya nggak cuman di Jakarta ataupun Indonesia, tapi seluruh dunia adalah “Today, we’re all in the moving business. We’re all in sales,” tulisnya.  Pernyataan Daniel Pink adalah cap validasi kalau kita yang berada di industri komunikasi alias public relations adalah para penjual di keseharian. Nggak terkecuali di keseharian semisal meyakinkan pasangan untuk dapat persetujuan membeli sesuatu yang kita inginkan. Itu juga bentuk jualan.Kalau sama-sama sudah mengamini public relations juga akan melakukan aktivitas jualan secara profesional, berarti langkah berikutnya adalah menajamkan proses berjualan kita. Kita jualan sama manusia alias human  Namanya transaksi jual beli, pasti terjadinya antara manusia dan manusia. Termasuk di dalamnya public relations dan PR agency yang ada di Jakarta Indonesia. Nggak cuman Jakarta, tapi semua daerah di Indonesia pastinya juga sama. Kondisi yang pastinya sama di seluruh belahan dunia.Karena transaksi jualannya antar sesama

Read More →

Era Serba Cepat, Waktunya untuk Slow PR?

(ditulis untuk advo PR agency jakarta Indonesia) Arus informasi sudah semakin deras. Medium distribusinya juga kian beragam dan perubahannya seolah tidak memberi nafas praktisi industri untuk menyusun strategi. Di sisi yang lain, persebaran informasi yang begitu cepat seolah meninggalkan pergerakan public relations yang pastinya ingin mengedepankan tanggung jawab untuk mencapai tujuan. Di Indonesia, apalagi kota besar seperti Jakarta, masih menjadi pusatnya PR agency jakarta Indonesia. Dengan tipikal kota yang hampir terus “hidup”, perputaran arus informasi berbanding lurus dengan upaya penduduknya untuk bisa sampai dari dan ke tempat tujuan aktivitas mereka secepat-cepatnya. Sebagai ranah yang beririsan dengan industri media, saat slow journalism sedang bergaung, rasanya PR agency jakarta Indonesia juga perlu melirik pakem yang satu ini. Kata kuncinya pun sama, “ketelatenan”. Kadang ketika menghadapi suatu kondisi, pergerakan public relation juga masih cenderung mengejar kecepatan. Kecenderungan takut akan ketinggalan Tentu masih membekas di ingatan, berapa banyak press release yang jadi target PR agency untuk jadi “makanan” media konvensional yang kini terus struggling untuk bertahan di derasnya new media di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Dengan Slow PR, pendekatan utamanya bukan lagi jumlah, tapi bagaimana membangun resonansi isu yang memberi dampak, dan tepat sasaran. Tak ada salahnya juga untuk menengok lagi, kapan terakhir kali sebagai PR agency jakarta Indonesia berjejaring yang sifatnya memang murni ingin menjalin hubungan dengan mereka yang ada di industri seberang, baik itu jurnalis maupun KOL bukan karena ada kepentingan? Bukan jadi alasan untuk bergerak lamban Namanya boleh saja identik dengan istilah selow, yang artinya santai atau tidak terpatok waktu. Justru di sini para pegiat public relations dan agency yang tersebar di seluruh Indonesia harus begitu peka dengan waktu. Penulis buku The Slow Leadership Andrew Prasatya yang belum lama merilis bukunya di Jakarta Selatan menyatakan bila slow dalam konteks kepemimpinan adalah bagaimana mengapresiasi setiap proses. Bicara soal proses,

Read More →

3 Hal Penting Dalam Strategi Email Marketing

(materi untuk advo public relations agency jakarta indonesia) Untuk menjangkau konsumen melalui email, saat memutuskan untuk menekan “Send” itu hampir sama pentingnya dengan isi pesan Anda. Beresonansi dengan profesional yang sibuk, hasil survei dari Reach Mail menyarankan melihat lebih mendalam ketika email akan keluar, karena beberapa data Anda mungkin usang. Jika ingin memenuhi kebutuhan konsumen yang berfokus pada email, inilah yang harus disesuaikan bagi Anda selaku pegawai di public relations agency jakarta indonesia: Kapan Harus Mengirim Email Pertama dan Terakhir Kebanyakan konsumen rata-rata memindai inbox virtual mereka ketika pertama kali bangun dan sebelum tidur di malam hari. Meski bagi banyak orang, saat-saat tertentu akan bervariasi. Menurut Reach Mail, lebih dari 70 persen orang Amerika memeriksa email mereka pertama kali pukul 05:00 – 09:00. Dimana konsumen di New York dan New Jersey rata-rata paling terakhir memeriksa email (sebelum 09:00), dan konsumen di Utah memeriksa lebih awal (setelah 06:30). Adapun untuk memeriksa email terakhir kalinya sebelum tidur, dimana 30 persen orang Amerika mengeceknya sebelum pukul 18:00 dan 70 persen setelah 06:00. Itu sebabnya Anda selaku pegawai di public relations agency jakarta indonesia jika ingin menyapa audien dengan email pagi, pertimbangkan mengirimkan blast berdasarkan lokasi audien utama Anda. Menurut Matt Zajechowski, content specialist at Digital Third Coast, saatnya bijak untuk meningkatkan jumlah konsumen yang mengabaikan hal-hal yang tidak ingin mereka baca. ”Saya pikir kita sudah menjadi cerdas untuk mencabut spam dari inbox kita, yang mungkin menyakiti “angka” pemasar dalam beberapa tahun terakhir. Memberikan data tersebut, muncul pertanyaan kapan Anda ingin berada di pikiran mereka? Saya akan memilih waktu lebih awal, ketika audien bergerak sedikit lebih lambat dan tenang. Kapan Waktu Respons Inbox konsumen mungkin lebih bersih dari yang mungkin Anda pikirkan. Lebih dari separuh responden survei mengatakan mereka memiliki kurang dari 10 email yang belum dibaca di inbox pada waktu tertentu. Selain itu,

Read More →