All Blog

Jurus Rahasia Apple Membuat PR Branding yang Tak Tergantikan

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Kalau kita bicara tentang branding, rasanya nggak lengkap kalau nggak menyebut nama “Apple”. Siapa sih yang nggak kenal brand satu ini? Logo apel tergigitnya saja sudah bisa bikin orang langsung paham bahwa produk itu pasti punya kualitas tinggi, eksklusif, dan keren. Tapi pernah nggak kepikiran, kenapa Apple bisa begitu kuat hingga branding-nya terasa “tak tergantikan”? Nah, di artikel ini kita akan kupas tuntas bagaimana Apple membangun branding yang super kokoh dan apa yang bisa dipelajari para manager marketing di Indonesia. Siap? Yuk kita mulai! Branding Apple: Lebih dari Sekadar Produk Satu hal yang bikin Apple beda dari kompetitor adalah mereka nggak cuma jual produk, tapi juga “menjual pengalaman”. Coba deh perhatikan: orang yang beli iPhone bukan cuma karena spesifikasi kamera atau RAM yang besar, tapi karena ada “gengsi” dan “emosi” di baliknya. Apple tahu betul bahwa manusia itu makhluk emosional. Maka, mereka membangun narasi bahwa setiap produk Apple bukan sekadar alat, tapi bagian dari gaya hidup. Inilah yang bikin branding Apple lebih dalam daripada sekadar fitur. Hal ini sejalan dengan pandangan Marty Neumeier, penulis The Brand Gap, yang bilang: “Brand bukanlah apa yang Anda katakan tentang perusahaan Anda, tetapi apa yang orang lain katakan tentang Anda”. Apple tidak hanya bicara tentang produknya, tapi menciptakan pengalaman yang membuat orang lain otomatis mempromosikan brand mereka lewat cerita positif. Kalau kita tarik ke dunia kerja, banyak PR Agency Indonesia juga menerapkan prinsip yang sama. Mereka membantu perusahaan bukan hanya memoles produk, tapi juga membangun cerita yang melekat di hati audiens. Konsistensi yang Mengikat Sejak awal berdiri, Apple punya prinsip konsistensi yang luar biasa. Dari desain produk yang minimalis, user interface yang simpel, sampai packaging yang elegan—semuanya terasa selaras. Konsistensi ini bikin orang percaya. Manager marketing pasti tahu, konsistensi adalah kunci supaya pesan

Read More →

PR Digital Marketing untuk Retensi Pelanggan: Strategi Jangka Panjang

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Kalau kita ngomongin “digital marketing”, sering kali fokusnya cuma ke akuisisi pelanggan baru. Semua orang berlomba bikin campaign keren, iklan bombastis, sampai kasih promo besar-besaran biar dapet perhatian konsumen. Tapi, ada satu hal penting yang sering terlupakan: “Retensi pelanggan” alias gimana caranya bikin pelanggan yang udah ada tetap loyal dan terus balik lagi. Buat seorang manajer marketing, ini adalah PR besar. Kenapa? Karena menurut banyak riset, “Biaya mendapatkan pelanggan baru bisa 5–7 kali lebih mahal” dibanding mempertahankan pelanggan lama. Jadi kalau brand cuma fokus ngejar yang baru tanpa mikirin yang lama, siap-siap aja budget marketing bocor seperti ember bolong. Mengapa Retensi Pelanggan Itu Penting? 1.    Lebih Hemat Biaya Pelanggan lama nggak butuh lagi edukasi panjang lebar. Mereka sudah kenal brand anda, bahkan mungkin udah percaya. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk komunikasi jauh lebih kecil. 2.    Mereka Lebih Gampang Beli Ulang Orang yang sudah pernah punya pengalaman positif dengan brand anda biasanya lebih cepat ambil keputusan buat repeat order. 3.    Word of Mouth gratis Pelanggan loyal cenderung cerita ke temen, keluarga, atau bahkan posting pengalaman mereka di media sosial. Gratis, organik, tapi impact-nya luar biasa. 4.    Meningkatkan nilai seumur hidup pelanggan (Customer Lifetime Value) Kalau pelanggan bertahan lama, value yang mereka kasih ke perusahaan akan terus bertambah. Peran Digital Marketing dalam Retensi Email Marketing & Newsletter Jangan cuma spam promo. Kirim konten yang beneran relevan: tips, artikel edukasi, atau rekomendasi produk sesuai preferensi pelanggan. Social Media Engagement Bukan cuma posting jualan. Buat interaksi! Tanyakan pendapat, bikin polling, atau bahkan repost konten buatan pelanggan. Ini bikin mereka merasa dihargai. Loyalty Program Digital Poin belanja, cashback, atau reward membership bisa diintegrasikan dengan aplikasi atau website. Pelanggan merasa ada keuntungan ekstra kalau bertahan. Personalized Marketing Data pelanggan yang dikumpulkan

Read More →

Pentingnya Bahasa Indonesia untuk Public Relations

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Banyak orang, termasuk public relations yang tinggal di  Indonesia merasa karena lama tinggal di negara dengan bahasa keseharian bahasa Indonesia, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Padahal baik belum tentu profesional, dan rasanya sekarang adalah waktunya kembali merefleksikan hal ini dalam cakupan kemampuan berbahasa. Banyak PR agency di Jakarta dan kota-kota lain di seluruh penjuru Indonesia yang begitu yakin dengan Bahasa Indonesia, tapi apakah mereka benar-benar mampu? Ada cerita pengalaman seorang pekerja media, sebut saja berinisial D yang kini mulai menapaki karier public relations. Dua puluh satu tahun lalu, D terperangah ketika pertama kalinya mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) dengan status mahasiswa baru di sebuah kampus negeri di Semarang. Waktu itu, D berpikir karena ia berkuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya-red)  jurusan Sastra Inggris maka mata kuliah dengan bobot Sistem Kredit Semester (SKS) paling banyak adalah segala hal yang berhubungan dengan sastra, bahasa Inggris, dan selingkar wilayahnya.  Ternyata? D salah total. SKS terbanyak justru dipegang oleh Bahasa Indonesia dengan bobot empat SKS adalah Bahasa Indonesia. D bahkan masih ingat perbincangan di mobil dengan almarhum bapaknya sewaktu mengantarkan D ke pool bus di bilangan Kota Kembang. “Mata kuliah apa yang SKS-nya paling banyak?” tanya bapak si D. “Bahasa Indonesia pak, empat SKS nih,” jawab saya. Bapak juga sedikit kaget, tapi dia justru berpesan. “Meskipun Bahasa Indonesia, jangan kamu sepelekan,” ujarnya. Tentu si D yang waktu baru masuk kuliah sedang mempertimbangkan karier masa depannya di industri public relations atau PR agency, cuman bisa membatin, “Kenapa Bahasa Indonesia ya?” D turun dari mobil dan berpindah ke bus malam yang mengantarkan perjalanan Bandung ke Semarang. Apa yang bapak D bahas tadi tentu hanya jadi cerita pengantar sebelum tertidur pulas. Hari-hari perkuliahan D semester awal dengan mata kuliah Bahasa Indonesia berlalu dengan

Read More →

Strategi Jitu Public Relations untuk Meminta

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Meminta mungkin terdengar, “Waduh enggak deh, kayak ngemis-ngemis,”. Apalagi untuk public relations yang harus “meminta” pada pihak-pihak yang potensial untuk bekerja sama. Mulai dari media, KOL, sampai calon klien. Hal yang sama berlaku juga untuk PR agency pastinya.Kalimat seperti “Boleh kali dibantu nih press release-nya,” atau “Kita bisa nih aktivasi yang lebih seru dari kompetitor,” terasa begitu butuh nyali untuk keluar dari mulut. Naha apakah meminta ini begitu tabu untuk para public relations, apalagi di kota besar seperti Jakarta? Meminta Potensial Memperpanjang “Nafas” PR Agency Tanpa meminta, dalam kondisi tertentu mungkin kita akan cenderung pusing sendiri. Padahal Plato sudah menegaskan,  “The right question is usually more important than the right answer.” Nah disinilah sebenarnya kita sebagai pelaku public relations perlu menambah satu skillset, “meminta yang benar”.Terdengar seperti mengada-ada, tapi di sini strategi meminta akan berpotensi menambah pemasukan PR agency, dan dalam jangka panjang, bisa memberikan runway lebih panjang untuk keberlangsungan PR agency. Tidak terbatas untuk PR agency yang ada di Jakarta, tapi juga tentunya berbagai kota di Indonesia. Pertanyaan berikutnya, apakah para public relations ini sudah benar-benar bisa meminta dengan benar? Mari kita bedah tips & triknya satu per satu. Bertanya dengan Sangat Spesifik Di ranah public relations, seperti layaknya media, juga ada segmentasi pembedanya. Misalnya saja tech, beauty, travel, automotive atau yang lainnya. Nah saat mau meminta, jangan terpatok di hal-hal yang “mengambang” atau ngawang-ngawang.Menurutentrepreneur, investor, penulis, podcaster, dan mentor gaya hidup Timothy Ferriss atau akrab disapa dengan Tim Ferris pernah berkata, “Life punishes the vague wish and rewards the specific ask.”Bagaimana maksudnya, jadi sebagai pekerja bahkan pemilik PR agency, perlu adanya penegasan “Kenapa meminta? Kita harus meminta apa? Untuk di mana? Berapa banyak? dan Meminta ke siapa?”Semakin banyak hal yang bisa kita breakdown untuk menjadi pertanyaan dalam

Read More →

Aksi Lemah Tapi Penting untuk Public Relations

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Jam terbang petinggi PR agency atau senior public relations biasanya mengacu pada 3 hal. PR yang paling solid mentalnya, suaranya menjadi magnet untuk banyak pihak, dan kekuatan untuk menjadi “nakhoda” sebuah agency, apalagi yang beroperasi di kota besar seperti Jakarta dengan segala hiruk pikuknya yang Indonesia banget.Industri public relations dan PR agency begitu lekat dengan imej “keras” dan “kuat” supaya bisa mendapatkan kepercayaan lebih banyak klien. Padahal ada beberapa hal yang sekilas kelihatan “lemah” tapi dengan sentuhan yang tepat membuat sosok seorang petinggi public relations ataupun PR agency menjadi lebih mendapat apresiasi dari klien dan pihak-pihak yang kerap diajak bekerja sama, termasuk media dan KOL.  Dalam buku The Slow Leadership, Andrew Prasatya sebagai penulis yang mempunyai jam terbang cukup tinggi di ranah manajerial menyematkan beberapa strategi untuk bisa menjadi sosok leader yang “dilihat”, dan tentunya sangat cocok diimplementasikan di ranah public relations ataupun kalian yang inigin menjadi owner dari sebuah agency di berbagai belahan Indonesia.  Berani Mengakui Ketidaktahuan Jam terbang tinggi seolah identik seorang senior public relations menjadi “ensiklopedia berjalan,”. Nggak jarang juga juga ada yang berada di posisi ini dan akhirnya malah menjadi sok tahu.  Di sinilah bibit maslah tercipta. Lebih baik menjawab “Maaf kalo itu kurang tahu,” dengan gaya masing-masing. Upayakan untuk memberikan kepastian mencari jawaban. Pastikan juga orang yang bertanya tadi tidak merasa kecewa.Tapi, ada cara untuk membuat jawaban kalian lebih “PR”. Apalagi kalau yang bertanya ini klien, media, atau KOL. Tentu sekadar menjawab “kurang tahu” akan menjadi kureng kalau anak-anak generasi terkini menyebutnya. Akan lebih baik kalau kita menjawab “Halo (nama klien, media, atau KOL). Iya nih lumayan bikin bingung. Nanti coba dipastikan (durasi riset), terus nanti kita ngobrol lagi deh ya.” Public Relations juga Bisa Keliru Buat PR-PR yang sudah punya jam terbang tinggi

Read More →

Public Relations Masih Perlu Influencer Marketing?

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Di tengah perubahan algoritma, hari-hari penuh deadline dari klien-klien berbagai PR agency, pemasaran alias marketing jelas makin diperlukan. Tapi sejumlah public relations merasa influencer marketing sudah kurang atau bahkan tidak relevan.Buat PR agency yang basisnya di Jakarta, distorsi ini lumayan jadi batu sandungan. Sementara untuk pelaku public relations yang tersebar di seluruh Indonesia, masih punya celah eksplorasi medium marketing konvensional. Tapi sebenarnya bagaimana sih influencer marketing ini? Jangan-Jangan Keliru “Kolam” Ketika memutuskan menggunakan influencer marketing, apakah para public relations benar-benar tahu cara “bermain” dengan jasa ini? Kalau memang sudah tahu caranya, apakah yakin eksekusinya sudah benar?Rata-rata influencer jadi kian meyakinkan dengan angka-angkanya yang punya potensi mengaburkan. Secara dimata klien PR agency pastinya sering ada permintaan untuk menggunakan jasa mereka. Perkara yang lain terjadi kalau sudah bayar mahal tapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.Nah kenapa nih kok bisa kejadian begini. Apakah yang problem di influencer marketingnya, PR agency-nya, atau klien yang begitu ngotot dengan kesosokan? Influencer Marketing Bukan Sekadar Soal Angka Beberapa klien PR agency apalagi di kota besar seperti Jakarta, memang masih “mendewakan” angka-angka dari influencer. Alhasil mereka sukses menjadi “icon”. Nah di sinilah peran public relations untuk tidak menjadikan mereka sekadar menjadi pajangan, tapi juga rekanan untuk mencapai tujuan.Bagaimana caranya? Salah satu yang public relations perlu perhatikan adalah mencari simpul dimana si influencer ini bisa mendapat perpanjangan tangan untuk mencapai tujuan. Misalnya dengan menggandeng komunitas. Memang jadinya Scope of Work (SoW) baru, tapi demi manfaat untuk kedua pihak, rasanya bisa menjadi pertimbangan. Daerah Juga Bisa Jadi Penentu Arah Sudah sejak lama Jakarta jadi barometer tren, termasuk di ekosistem public relations dan PR agency. Kota-kota lain di Indonesia, seperti Bandung dan Jogja muncul dengan karakter masing-masing belakangan. Tapi di luar kota-kota ini, ketika bicara influencer marketing, banyak hal bisa

Read More →

Public Relations (Benar-benar) Perlu Perencanaan?

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Minim perencanaan atau tanpa perencanaan? Pekerjaan public relations dalam payung PR agency adalah bagian dari aktivitas kreatif, yang tentunya juga beririsan dengan kesenian. Nah di sini adalah kuncinya. Kita ambil contoh Sid Vicious, pemain bas grup punk Sex Pistols. Sudah banyak sekali video, literasi, dan wawancara yang menggambarkan betapa “terencananya” sosok seorang pemain bas dari sebuah grup yang sangat “tertata”. Dua tanda kutip pada terencana dan tertata di sini tentu saja bentuk sebaliknya.Mungkin terdengar tidak berimbang, yang satu musisi (dan punk pula), apa hubungannya dengan public relations apalagi PR agency dan selingkar wilayahnya? Justru di sini irisannya. Bayangkan seorang public relations dengan mindset seperti Sid Vicious. Minim rencana, atau lebih tepatnya memecah rencana besar jadi rencana-rencana kecil, atau dengan memikrokan rencana.Contoh lain adalah karakter Sony Hayes dalam F1 The Movie yang diperankan oleh Brad Pitt. Hayes adalah sosok yang oleh rekan-rekan dalam tim balap dimana ia ada di dalamnya dikenal “tanpa rencana”. Tentu ini berpotensi menuai kontroversi dalam tim apalagi ketika diterjemahkan dalam koridor public relations yang bekerja untuk PR agency.Memikrokan rencana juga berpotensi “meringankan” kepala para public relations. Tidak perlu terus memikirkan minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Tapi sebagai bagian dari PR agency yang ada di kota besar seperti Jakarta atau untuk yang sedang merintis karier public relations di berbagai daerah di Indonesia, tidak ada salahnya mencoba eksekusi ke sebanyak mungkin bagian. Hasilnya? Memang tidak ada jaminan lebih baik dari keteraturan mutlak. Tapi, siapa yang tahu konsep-konsep unik bahkan out of the box justru muncul dari sini. (*) Hampir di setiap aktivitas public relations selalu lekat dengan perencanaan. Coba tengok dulu, seberapa banyak aktivitas perencanaan di keseharian. Hal yang sama juga rasanya umum terjadi di PR agency. Mulai dari content plan alias perencanaan konten, timeline project

Read More →

Followers vs True Fans & Pengaruhnya untuk PR Agency

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Dalam sebuah rencana campaign, angka (followers, engagement, dan semacamnya) sering menjadi matriks yang klien dari PR agency ajukanatau public relations tawarkan. Pasti sering dong kita mendengar “Mau media yang view-nya sekian,” atau “KOL yang follower ataureach-nya seenggaknya segini ya,”.Tidak mengherankan jadinya kalau banyak media dan KOL di kota besar seperti Jakarta, berlomba mendapatkan angka yang sebesar-besarnya. Harapannya bisa mendapatkan lebih banyak kerja sama, atau setidaknya masuk dalam rekomendasi PR agency. Sementara yang berada di kawasan kota kedua atau kota ketiga di Indonesia mencoba menghadirkan keunikan dari tiap-tiap daerah dengan style masing-masing.Tapi belakangan, sering terjadi di homeless media atau KOL yang sudah memiliki puluhan ribu followers, tapi saat ada campaign dengan salah satu klien PR agency ternyata yang ngeview cuman ratusan atau lebih parahnya lagi bisa puluhan. Kondisi seperti ini tentu membuat para public relations bingung. Ada yang keliru dimanakah? Followers Tidak Berbanding Lurus dengan Reach Ada satu fakta yang mungkin para pegiat public relations maupun PR agency akan bingung mendengarnya. Sementara untuk media ataupun KOL, ada pil pahit yang berpotensi berpengaruh terhadap rate card. Apa sih itu? Jadi riset Social Media Examiner menyingkap kenyataan kalau jangkauan dari sebuah organic post hanya 2 persen saja dari jumlah followers keseluruhan. Hah cuman segitu? Iya nih,kondisi terbaiknya hanya mencapai 5 persen saja.Jadi memang begitulah kenyataannya. Misalnya ada media atau KOL yang punya 50.000 followers. Besar kemungkinan masuk ke dalam radar PR agency untuk selanjutnya meminta persetujuan klien ke dalam sebuah campaign. Tapi kalau mengacu ke hasil riset tadi, yang melihat kontennya potensinya hanya 1.000-2.500 orang saja. Memang masih ribuan, tapi jumlahnya terlalu sedikit dengan followers media atau KOL-nya. Kemana sisanya? Sebelum keburu berpikir ini bukan real numbers, ternyata yang “jahat” adalah algoritma. Kalau Numbers Bukan Segalanya, Jadi… Sebagian pelaku public relations mungkin berpikir

Read More →

Sudah Relakah Para Public Relations Melepas “Jas”?

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Belakangan sedang hangat perbincangan tentang ketidakpastian industri. Dari mulai media, sampai sektor yang beririsan seperti public relations dan tentunya PR agency yang jadi payungnya.  Kondisi ini memancing reaksi dari berbagai kalangan di kota besar seperti Jakarta, dan tentunya teman-teman yang berada di Indonesia bagian lainnya. Sebagian kalian yang membaca mungkin bertanya-tanya maksud adanya tanda kutip, tentu sudah jelas bila ada makna dari sebuah kata. Mungkin sebagian orang mencoba menerka-nerka. Tapi bagaimana kalau kita lanjut dulu? Berburu “jaket berbulu” Siapa pun pasti menginginkan kenyamanan. Kehangatan di saat dingin, kelembutan pakaian yang dikenakan, dan sama juga dengan karier profesional para public relations pastinya. Juga rasanya tidak ada PR agency yang mau harus terus “pahit”.Belakangan hari ke hari juga dipenuhi pemberitaan pemangku kebijakan yang membuat gerah para pekerja di berbagai ranah, sebenarnya semua pihak besar kemungkinan sama-sama mendamba kenyamanan. Coba tengok kiri dan kanan dalam jarak pandang yang tidak terlalu jauh, semua orang pasti ingin kestabilan, dan rasa minim kerisauan, akan lebih baik lagi kalau mendapat belaian.  Para public relations ataupun pegiat PR agency yang sudah lebih dari 5 tahun di ranah ini pasti mengalami transformasi media dari era keemasan media cetak, mencicipi broadcast, dan banyak bermain dengan media online sampai new media tentu juga sempat merasakan masa-masa keemasan tiap media.Dulu di era media cetak bentuk iklan sebagai sarana untuk mendapatkan cuan eksplorasinya begitu beragam. Untuk media-media yang ada di Jakarta pasti sudah akrab dengan media cetak  spot UV, window cover, emboss, sampai berbagai metode cetak yang mengimpresi (sampai ada mini LCD sebagai bentuk advertorial sebuah majalah-red). Sementara media-media daerah di berbagai penjuru Indonesia memiliki karakternya sendiri yang menjadi nilai jual bagi para klien yang pastinya beririsan juga dengan para PR agency dan public relations di dalamnya.  Tapi coba perhatikan ketika era

Read More →

Biar PR Agency Bertahan, Perlu Juga “Jalan-Jalan”

(materi ini ditulis untuk advo indonesia public relations agency jakarta indonesia) Coba apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar kata jalan? Mungkin kerusakan, cara, atau mungkin menambahkan satu kata berulang di belakangnya. Memang fungsi katanya berubah, dari kata benda menjadi kata kerja. Termasuk untuk para pelaku public relations yang bekerja untuk PR agency di kota besar seperti Jakarta dan juga seluruh belahan Indonesia, ternyata “jalan-jalan” adalah hal yang mandatory untuk dilakukan.Tapi kali ini bukan soal team atau company outing. Kehidupan digital membuat kita perlu banyak “berjalan-jalan” di dalamnya. Sekitar tahun 2000-an awal sampai satu dekade setelahnya blog begitu populer, dan karenanya ada istilah blogwalking. Sesuai namanya, aktivitas ini adalah “jalan-jalan” dengan tujuan meningkatkan kunjungan laman. Karenanya ketika memasukkan kata blogwalking di mesin pencarian, maka yang paling banyak muncul adalah para penyedia hosting situs.Nah, mungkin kalian yang membaca ini baru menapaki dunia public relations dan selingkar wilayahnya, atau bahkan sudah menjalani beberapa tahun atau malah sudah belasan atau puluhan tahun di PR agency, frekuensi “jalan-jalan” yang makin intens akan memberikan banyak keuntungan bagi kalian. Kendaraan untuk Menapaki Zaman Jam terbang sebagai public relations pasti akan terus meningkat seiring berapa lama mengarungi waktu di PR agency. Tapi untuk bertahan adalah bagaimana menjaga relevansi. Karena yakin untuk bisa “memuntahkan” kita harus mempunyai banyak asupan. Dengan “berjalan-jalan”, kita bisa menemukan KOL atau media baru dengan niche yang menarik untuk kita ajak bekerja sama. Jangan pernah lupa bila pergeseran tren media sudah terjadi berkali-kali. Dari mulai senjakala media cetak yang membuat banyak media cetak khususnya franchise, akhirnya harus gulung tikar. Sebutlah Gramedia Majalah yang harus menutup mayoritas majalahnya, juga MRA Media yang dulu menjadi barometer media di ranah gaya hidup , selain tentunya media-media dengan niche spesifik seperti tanaman, musik, game, mobil spesifik, dan banyak lagi lainnya. Ini baru untuk kota besar seperti Jakarta.

Read More →